{"id":1115,"date":"2018-06-04T14:48:02","date_gmt":"2018-06-04T07:48:02","guid":{"rendered":"https:\/\/etnografi.online\/?p=1115"},"modified":"2018-06-04T15:13:00","modified_gmt":"2018-06-04T08:13:00","slug":"dibalik-kisah-lahirnya-pancasila","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/2018\/06\/04\/dibalik-kisah-lahirnya-pancasila\/","title":{"rendered":"Dibalik Kisah Lahirnya Pancasila"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\"><strong>ETNOGRAFI.ID:<\/strong> Soekarno dengan lantang menyerukan bahwa dasar negara adalah Pancasila. Hal tersebut dinyatakan pada tanggal 1 Juni 1945. Tonggak sejarah itulah, setiap tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Akan tetapi, seiring perkembanganya, ada yang menggugat dengan alasanya yang sama bahwa Soepomo dan Muhammad Yamin juga menyampaikan gagasan tentang dasar negara.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Maka terjadilah perdebatan ketetapan lahirnya Pancasila 1 Juni dan 18 Agustus 1945 ketika UUD 1945 lahir. Sebagai penggali Pancasila, Soekarno berusaha agar falsafah dasar negara tersebut diketahui luas oleh masyarakat.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Menurut Mangil Martowidjojo komandan Detasemen Kawal Pribadi Resimen Tjakrabirawa yang mengawal Sukarno dan keluarganya, Sukarno membicarakan Pancasila di mana-mana, di seluruh Indonesia.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">\u201cSaya yakin, rakyat Indonesia lebih mengerti tentang lahirnya Pancasila ini karena rakyat jelata mendengar sendiri keterangan itu langsung dari mulut Bung Karno sebagai penggali kelima mutiara tersebut,\u201d kata Mangil dalam\u00a0<em>Kesaksian tentang Bung Karno 1945-1967<\/em>, seperti yang dilansir Historia.id<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Mangil mengungkapkan bahwa pada waktu Sukarno berbicara tentang Pancasila di rapat-rapat umum, para tokoh yang mendengarkan pidatonya pada 1 Juni 1945 masih hidup. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Pada waktu itu, tidak ada yang membantah atau menentang, baik secara perseorangan maupun di surat-surat kabar, bahwa Pancasila itu bukan galian Bung Karno.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">\u201cIni berarti semua mengetahui dan mengerti, memang betul Pancasila itu Bung Karno yang menggalinya dari bumi Indonesia,\u201d kata Mangil.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Menurut sejarawan Peter Kasenda dalam\u00a0<em>Bung Karno Panglima Revolusi<\/em>\u00a0pidato Sukarno pada 1 Juni 1945 berjudul Lahirnya Pancasila kemudian diterbitkan Departemen Penerangan pada 1947. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Sebelas tahun kemudian, tepatnya 1958 dan 1959, Presiden Sukarno memberikan kursus-kursus di Istana Negara Jakarta, dan kuliah umum pada Seminar Pancasila di Yogyakarta. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Kumpulan pidato tersebut beserta pidato Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945 dibukukan berjudul\u00a0<em>Pancasila sebagai Dasar Negara<\/em>.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Awalnya Sukarno merasa cukup dengan kursus atau rapat-rapat umum dalam mengampanyekan Pancasila. Namun, dia kemudian tersentak oleh pernyataan DN Aidit, ketua CC PKI.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Pada awal Mei 1964, Aidit membuat pernyataan mengejutkan yang mempertanyakan Pancasila sebagai dasar negara. Dalam pidato berjudul \u201cBerani, Berani, Sekali Lagi Berani, Aidit mengatakan <em>\u201cPancasila mungkin untuk sementara dapat mencapai tujuannya sebagai faktor penunjang dalam menempa kesatuan\u00a0dan kekuatan Nasakom. Akan tetapi begitu\u00a0Nasakom\u00a0menjadi realitas, maka Pancasila\u00a0dengan sendirinya tak akan ada lagi.\u201d<\/em><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Menurut Ganis Harsono, juru bicara\u00a0departemen luar negeri pada era Sukarno, mungkin karena sangat terpengaruh oleh sikap Aidit yang menyelewengkan\u00a0Pancasila itu, maka tiba-tiba presiden menuntut diadakannya acara\u00a0peringatan hari\u00a0lahirnya\u00a0Pancasila\u00a0pada 1 Juni\u00a01964.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">\u201cHari itu adalah hari ulang\u00a0tahun\u00a0kesembilan belas\u00a0Pancasila, dan banyak kalangan yang menganggap aneh, bahwa hari itu diperingati\u00a0falsafah negara Indonesia secara resmi untuk pertama kalinya,\u201d kata Ganis dalam memoarnya,\u00a0<em>Cakrawala Politik Era Sukarno.<\/em><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Hari Lahir Pancasila diperingati untuk pertama kalinya dengan upacara kenegaraan di Istana Merdeka. Slogan yang dipilih adalah Pancasila Sepanjang Masa. Pada kesempatan tersebut, Sukarno menguraikan kembali bagaimana dulu dia merumuskan Pancasila, berikut urut-urutan kelima silanya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Setelah membuat pernyataan menghebohkan itu, hubungan Aidit dengan Sukarno renggang. Bahkan, Ganis menyebut \u201crasa kebencian yang timbul di antara Sukarno dan Aidit terlihat semakin nyata.\u201d<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">PKI kemudian berusaha membuat pelurusan atas pernyataan Aidit dengan menerbitkan\u00a0<em>Aidit Membela Pantjasila\u00a0<\/em>(1964). Aidit juga menyampaikan pandangannya tentang agama dan Pancasila dalam wawancara dengan wartawan Solichin Salam yang dimuat majalah\u00a0<em>Pembina,\u00a0<\/em>12 Agustus 1964.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Sementara itu, peringatan Hari Lahir Pancasila kemudian dilaksanakan setiap tahun, setiap tanggal 1 Juni. Terakhir Sukarno memperingati Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 1966. Setelah itu, rezim Orde Baru menjadikannya tahanan rumah hingga meninggal pada 21 Juni 1970.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Pada 17 September\u00a01966 Menteri\/Panglima Angkatan Darat Jenderal TNI Soeharto menetapkan tanggal 1 Oktober sebagai\u00a0Hari Kesaktian Pancasila \u2013peringatan keberhasilan Soeharto menggagalkan upaya kudeta 1965. Soeharto juga sempat memperingati Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 1967 dan 1968.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Sebagai upaya menghapus warisan Sukarno (desukarnoisasi), rezim Orde Baru melalui Kopkamtib (Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) melarang peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni mulai tahun 1970. Yang diperingati Orde Baru adalah Hari Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt; font-family: georgia, palatino, serif;\">Pada 1 Juni 2016 Presiden Joko Widodo menandatangani Keputusan Presiden (Keppres) No. 24 Tahun 2016 yang menetapkan 1 Juni 1945 sebagai Hari Lahir Pancasila. Dan 1 Juni ditetapkan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Artikel di atas sudah terbit di Historia.id <a href=\"https:\/\/historia.id\/modern\/articles\/peringatan-hari-lahir-pancasila-yang-pertama-DBKmB\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">&#8220;Peringatan Hari Lahir Pancasila yang Pertama&#8221;<\/a><\/span><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>(Red)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ETNOGRAFI.ID: Soekarno dengan lantang menyerukan bahwa dasar negara adalah Pancasila. Hal tersebut dinyatakan pada tanggal 1 Juni 1945. Tonggak sejarah itulah, setiap tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila. Akan tetapi, seiring perkembanganya, ada yang menggugat dengan alasanya yang sama bahwa Soepomo dan Muhammad Yamin juga menyampaikan gagasan tentang dasar negara. Maka terjadilah perdebatan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":1116,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[19],"tags":[142,143],"class_list":["post-1115","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sejarah","tag-lahirnya-pancasila","tag-sejarah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1115","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1115"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1115\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1116"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1115"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1115"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1115"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}