{"id":1326,"date":"2018-06-11T00:59:56","date_gmt":"2018-06-10T17:59:56","guid":{"rendered":"https:\/\/etnografi.online\/?p=1326"},"modified":"2018-06-11T01:05:12","modified_gmt":"2018-06-10T18:05:12","slug":"asal-usul-tarian-reog-ponorogo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/2018\/06\/11\/asal-usul-tarian-reog-ponorogo\/","title":{"rendered":"Asal Usul Tarian Reog Ponorogo"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-family: tahoma, arial, helvetica, sans-serif;\"><strong>ETNOGRAFI.ID&#8211;<\/strong>Reog merupakan salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: tahoma, arial, helvetica, sans-serif;\">Ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok, namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bra Kertabumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: tahoma, arial, helvetica, sans-serif;\">Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak rekan Cina rajanya dalam pemerintahan dan prilaku raja yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: tahoma, arial, helvetica, sans-serif;\">Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan dimana ia mengajar anak-anak muda seni bela diri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan lagi kerajaan Majapahit kelak. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: tahoma, arial, helvetica, sans-serif;\">Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan \u201csindiran\u201d kepada Raja Bra Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_1327\" aria-describedby=\"caption-attachment-1327\" style=\"width: 690px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-1327 size-full\" src=\"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2018\/06\/Reog.jpg\" alt=\"\" width=\"690\" height=\"460\" srcset=\"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2018\/06\/Reog.jpg 690w, https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2018\/06\/Reog-300x200.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 690px) 100vw, 690px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-1327\" class=\"wp-caption-text\">Singabarong, Reog Ponorogo. Foto: Internet<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-family: tahoma, arial, helvetica, sans-serif;\">Asal usul Reog Ponorogo dilatar belakangi oleh kisah perjalanan raja kerajaan Bantarangin, yaitu prabu kelana sewandana yang tengah mencari calon permaisurinya pada tahun 900 saka. Calon permaisuri tersebut dicari karena kabur dari kerajaan\u00a0 Bantarangin. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: tahoma, arial, helvetica, sans-serif;\">Calon permaisuri yang bernama Dewi Sanggalangit yang juga adalah putri dari kerajaan kediri ini kabur karena tidak ingin dijodohkan dengan sang prabu kelana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: tahoma, arial, helvetica, sans-serif;\">Setelah berpikir cukup keras berhari \u2013 hari, akhirnya sang prabu mendapat wahyu dari Dewi Parwati untuk membuat seni pertunjukan berupa tarian menggunakan barongan berupa Reog. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: tahoma, arial, helvetica, sans-serif;\">Reognya sendiri dibuat sangat besar dengan perlambangan cinta berupa bulu burung\u00a0 merak dan kepala harimau. Bulu buruk merak melambangkan sang calon permaisuri, dan kepala harimau melabangkan sang prabu. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: tahoma, arial, helvetica, sans-serif;\">Tarian reog ponorogo kala itupun langsung dipertontonkan pada sang calon permaisuri. Melihat tarian tersebut, sang calon permaisuri pun sangat senang dan berjanji mau dinikahi asal tarian reog tersebut ditampilkan setiap memperingati hari pernikahan mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: tahoma, arial, helvetica, sans-serif;\">Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun di tengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: tahoma, arial, helvetica, sans-serif;\">Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan\u00a0Ponorogo\u00a0Raja Kelono dan Wakilnya Bujang Anom, dikawal oleh\u00a0warok\u00a0(pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: tahoma, arial, helvetica, sans-serif;\">Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara KerajaanKediri\u00a0dan Kerajaan\u00a0Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan &#8220;kerasukan&#8221; saat mementaskan tariannya.<\/span><\/p>\n<p><strong>Penulis : Nanda Namira Putri\u00a0 XII Bahasa\u00a0SMA Negeri 1 Cisaat Kab. Sukabumi<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ETNOGRAFI.ID&#8211;Reog merupakan salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok, namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":1328,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[22],"tags":[194,195],"class_list":["post-1326","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-budaya","tag-reog-ponorogo","tag-sma-negeri-1-cisaat-kab-sukabumi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1326","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1326"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1326\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1328"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1326"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1326"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1326"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}