{"id":1524,"date":"2018-07-08T21:48:09","date_gmt":"2018-07-08T14:48:09","guid":{"rendered":"https:\/\/etnografi.online\/?p=1524"},"modified":"2018-07-08T22:22:23","modified_gmt":"2018-07-08T15:22:23","slug":"antologi-puisi-dian-ahmad-wibowo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/2018\/07\/08\/antologi-puisi-dian-ahmad-wibowo\/","title":{"rendered":"Antologi Puisi, Dian Ahmad Wibowo"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-family: verdana, geneva, sans-serif;\"><strong>ADVERTORIAL, ETNOGRAFI.ID\u2014<\/strong>Berawal dari hobi menulis, boleh jadi itu alasan kenapa hasrat pemuda satu ini terus berkarya pada bidang sastra. Setelah dirinya sukses mengelurkan <a href=\"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/2018\/06\/23\/sukses-dengan-novel-penari-matahari-da-wibowo-terbitkan-novel-terbarunya\/\">dua karya Novel<\/a> pria yang juga tim riset media alternatif\u00a0<strong><a href=\"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/\">ETNOGRAFI.ID<\/a><\/strong> ini berniat mendulang kesuksesanya dengan mengeluarkan buku karya sastranya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana, geneva, sans-serif;\">Sebut saja, <a href=\"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/2018\/06\/23\/sukses-dengan-novel-penari-matahari-da-wibowo-terbitkan-novel-terbarunya\/\">Dian Ahmad Wibowo<\/a> pemuda asal Malangbong Garut ini mencoba berkonsentrasi pada bidang sastra. Semangat pendidikan pun terus dia kembangkan, sehingga kini ia sedang menempuh akademik Magister Pendidikan Sejarah di Sekolah Pasca Sarjana, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana, geneva, sans-serif;\">Karya sastra yang ia keluarkan kali ini membahas tentang cara dan kumpulan puisi cinta. Buku ini bisa jadi rujukan bagi para pembaca yang ingin menemukan cinta sejatinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana, geneva, sans-serif;\">Penyair, dosen psikologi, MIF Baihaqi bercerita bahwa Dian Wibowo, semasa masih remaja menuliskan pengalaman jatuh cinta dengan sangat indah. \u00a0Ada ungkapan jatuh hati, kesabaran menunggu jawaban dari gadis yang diidamkan, keinginan dipahami perasaannya, atau bayang-bayang kekasih di malam hari, menjadi pengalaman indah yang menginspirasi puisi-puisinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana, geneva, sans-serif;\">Latar peristiwa di tepian laut, bersama hembusan angin kebun yang penuh mawar bunga; kerlap-kerlip lampu kota, Braga yang indah dengan beragam lukisan, suasana sepi di tepian trotoar jalan, atau justru cinta di Gedung SPs UPI.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana, geneva, sans-serif;\">Menariknya, ia juga menuliskan beberapa alat musik, seperti Gitar, Ukulele, dan Harmonika. Menunjukkan penulisnya tak hanya sedang jatuh cinta, namun juga piawai bermusik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana, geneva, sans-serif;\">\u201cJika pada pikiran pembaca ingin menemukan cinta yang &#8216;langsung sejati&#8217;, buku ini jangan dibaca! Jika pembaca ingin mendapatkan nuansa bagaimana rasa mencintai seseorang, rasa dicintai seseorang, rasa berdegup jantung menanti jawaban dari kekasih, maka kumpulan puisi ini layak dibeli dan dikoleksi\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana, geneva, sans-serif;\">Hal senada diungkapkan, seorang penyair Zulkifli. Menurut dia kata-kata yang dirangkai Dian Ahmad Wibowo \u00a0dalam kumpulan Symphoni Cinta ini mengingatkan dirinya pada lirik lagu-lagu pop.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana, geneva, sans-serif;\">Nada dan suasana yang coba Dian bangun dalam larik-lariknya senantiasa menyiratkan kesan pilu nan romantik. Saya menduga puisi-puisi dalam buku ini jika berkeras menyebutnya puisi bakal lebih punya tenaga dan karenanya mungkin pula bakal lebih menggetarkan jika disampaikan lewat nyanyian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana, geneva, sans-serif;\">Pujian pun datang dari Adew Habtsta seorang penyair juga musisi. Bagi dia motif seseorang untuk menulis berdasar pendapat George Orwell, diantaranya motif egoik, estetis, historis dan politis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana, geneva, sans-serif;\">Oleh karena itu, karya Dian Ahmad Wibowo ini mencoba menyampaikan empat aspek tujuan seseorang dalam berkarya. Ia pun menulis dari yang sifatnya hal pribadi, semisal pengalaman cinta, sampai persolan kota kemasyarakatan. \u00a0Minatnya perhatiannya besar. Keberanian menyatakan perasaannya meletup-letup. Kelugasan berucap begitu kentara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana, geneva, sans-serif;\">\u201cDan semua orang boleh mendapatkan layak yg tempat untuk jadi penyair, sepanjang masih kuat daya amatannya pada lingkungan terdekatnya\u201d. \u00a0<strong>(Red)<\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ADVERTORIAL, ETNOGRAFI.ID\u2014Berawal dari hobi menulis, boleh jadi itu alasan kenapa hasrat pemuda satu ini terus berkarya pada bidang sastra. Setelah dirinya sukses mengelurkan dua karya Novel pria yang juga tim riset media alternatif\u00a0ETNOGRAFI.ID ini berniat mendulang kesuksesanya dengan mengeluarkan buku karya sastranya. Sebut saja, Dian Ahmad Wibowo pemuda asal Malangbong Garut ini mencoba berkonsentrasi pada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":1525,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[22,48],"tags":[],"class_list":["post-1524","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-budaya","category-humaniora"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1524","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1524"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1524\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1525"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1524"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1524"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1524"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}