{"id":182,"date":"2018-03-07T18:46:07","date_gmt":"2018-03-07T11:46:07","guid":{"rendered":"https:\/\/etnografi.online\/?p=182"},"modified":"2018-03-10T01:40:46","modified_gmt":"2018-03-09T18:40:46","slug":"perjalanan-keroncong-di-indonesia-bagian-1","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/2018\/03\/07\/perjalanan-keroncong-di-indonesia-bagian-1\/","title":{"rendered":"Perjalanan Keroncong di Indonesia Bagian 1"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p><em><strong>Oleh Dian Ahmad Wibowo<\/strong><\/em><\/p>\n<p><strong>ETNOGRAFI.ID:<\/strong> Keroncong berasal dari sejenis musik\u00a0Portugis\u00a0yang dikenal sebagai\u00a0fado\u00a0yang diperkenalkan oleh para pelaut dan\u00a0budak kapal niaga bangsa itu sejak abad ke-16 ke\u00a0Nusantara.<\/p>\n<p>Dari daratan\u00a0India\u00a0(Goa) masuklah musik ini, pertama kali di Malaka dan kemudian dimainkan oleh para budak dari\u00a0Maluku. Melemahnya pengaruh Portugis pada abad ke-17 di Nusantara tidak dengan serta-merta berarti hilang pula musik ini.<\/p>\n<p>Bentuk awal musik ini disebut\u00a0moresco, sebuah tarian asal Spanyol, seperti polka agak lamban ritmenya. Salah satu lagu Kusbini yang disusun kembali dikenal dengan nama Kr. Muritsku diiringi oleh alat musik dawai musik keroncong yang berasal dari\u00a0Tugu\u00a0disebut keroncong Tugu.<\/p>\n<p>Dalam perkembangannya, masuk sejumlah unsur tradisional Nusantara, seperti penggunaan\u00a0seruling\u00a0serta beberapa komponen\u00a0gamelan.<\/p>\n<p>Pada sekitar abad ke-19 Keroncong bentuk musik campuran ini, sudah populer di banyak tempat di Nusantara, bahkan hingga ke Semenanjung Malaya. Masa keemasan Keroncong berlanjut hingga sekitar tahun 1960-an dan kemudian meredup akibat masuknya gelombang musik populer musik\u00a0rock\u00a0yang berkembang sejak 1950 dan berjayanya grup musik\u00a0Beatles\u00a0dan sejenisnya sejak tahun 1961 hingga sekarang.<\/p>\n<p>Seperti diketahui bahwa Musik Keroncong\u00a0masuk ke Indonesia sekitar tahun 1512 yaitu pada waktu\u00a0Ekspedisi Portugis\u00a0pimpinan\u00a0Alfonso de Albuquerque\u00a0ke\u00a0Malakadan\u00a0Maluku\u00a0tahun 1512. Tentu saja para pelaut Portugis membawa lagu jenis\u00a0Fado yaitu lagu rakyat Portugis bernada Arab tangga nada minor karena orang\u00a0Moor\u00a0Arabpernah menjajah Portugis\/Spanyol tahun 711 &#8211; 1492.<\/p>\n<p>Lagu jenis Fado masih ada di Amerika Latin (bekas jajahan Spanyol), seperti yang dinyanyikan Trio\u00a0Los Panchos\u00a0atau\u00a0Los Paraguayos, atau juga lagu di\u00a0Sumatera Barat(budaya Arab) seperti\u00a0Ayam Den Lapeh.<\/p>\n<p>Pada waktu tawanan Portugis dan budak asal Goa (India) di Kampung Tugu dibebaskan pada tahun 1661 oleh Pemerintah Hindia Belanda (VOC) mereka diharuskan pindah agama dari Katholik menjadi Protestan, sehingga kebiasaan menyanyikan lagu Fado menjadi harus bernyanyi seperti dalam Gereja Protestan, yang pada\u00a0tangga nada mayor.<\/p>\n<p>Dalam buku Ensiklopedi Jakarta mengenai Keroncong menyebutkan bahwa asal mula \u2018keroncong\u2019 berasal dari Bahasa Portugis yakni jukulele (ukulele) dalam Bahasa Portugis disebut dengan nama croucho, yang artinya kecil (untuk menyebut ukulele sebagai gitar dengan ukuran kecil).<\/p>\n<p>Keunikan Keroncong salah satunya adalah dari bunyi cak, cuk dan\u00a0cello. Cak dan cuk-lah khas dari Keroncong ini dengan suara creng-crongnya, cak dan cuk pula yang merupakan evolusi dari croucho ini.<\/p>\n<p>Sekitar tahun 1610 Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen mengalahkan Pangeran Jayakarta dan tahun 1621 menaklukkan Pulau Banda, tawanan-tawanan asal Pulau Banda ini adalah dijadikan budak lalu dikirim ke Kampung Tugu dan Kampung Brandan di Batavia, di kawasan itu terkenal sebagai tempat penampungan budak-budak asal Maluku dari Pulau Banda (Muhadjir, 2000, Bahasa Betawi : Sejarah dan Perkembangannya: 44).<\/p>\n<p>Lagu keroncong Portugis atau Keroncong Moresco yang pertama populer di masa itu adalah Prounga. Lagu ini sangat disenangi penduduk Kampung Bandan, jenis Keroncong seperti Prounga ini akhirnya disebut sebagai Keroncong Bandan.<\/p>\n<p>Prounga adalah jenis Keroncong rohani yang biasa dinyanyikan di Gereja saat itu.<br \/>\nPada tahun 1673, mereka para keturunan Portugis ini berpindah ke daerah Cilincing. Di sana mereka mendirikan Gereja Tugu, sesuai nama kampungnya Kampung Tugu.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; Oleh Dian Ahmad Wibowo ETNOGRAFI.ID: Keroncong berasal dari sejenis musik\u00a0Portugis\u00a0yang dikenal sebagai\u00a0fado\u00a0yang diperkenalkan oleh para pelaut dan\u00a0budak kapal niaga bangsa itu sejak abad ke-16 ke\u00a0Nusantara. Dari daratan\u00a0India\u00a0(Goa) masuklah musik ini, pertama kali di Malaka dan kemudian dimainkan oleh para budak dari\u00a0Maluku. Melemahnya pengaruh Portugis pada abad ke-17 di Nusantara tidak dengan serta-merta berarti hilang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":183,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[22],"tags":[40,41],"class_list":["post-182","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-budaya","tag-keroncong","tag-musik-keroncong"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/182","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=182"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/182\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/183"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=182"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=182"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=182"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}