{"id":1863,"date":"2018-07-30T01:18:31","date_gmt":"2018-07-29T18:18:31","guid":{"rendered":"https:\/\/etnografi.online\/?p=1863"},"modified":"2018-07-30T19:40:58","modified_gmt":"2018-07-30T12:40:58","slug":"langensari-nyari-mojang-jajaka-banjar-pelopor-akulturasi-budaya-perbatasan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/2018\/07\/30\/langensari-nyari-mojang-jajaka-banjar-pelopor-akulturasi-budaya-perbatasan\/","title":{"rendered":"&#8220;Langensari Nyari&#8221; Mojang Jajaka Banjar Pelopor Akulturasi Budaya Perbatasan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: verdana, geneva, sans-serif;\"><strong>BANJAR, ETNOGRAFI.ID\u2014<\/strong>Sebanyak 34 kontestan Mojang Jajaka akan berkompetisi untuk meraih mahkota Moka Kota Banjar 2018. Bertajuk \u201cLangensari Nyari\u201d menyiratkan adanya upaya nonoman Banjar untuk mencari identitas budaya di wilayah perbatasan. Dua wilayah ini yakni provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah sehingga jati diri Banjar Patroman yang hidup ditengah akulturasi budaya kedua daerah.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: verdana, geneva, sans-serif;\">\u201cBanjar itu unik. Secara demografis daerah ini hidup ditengah akulturasi dua kebudayaan yang berbeda yakni budaya Jawa Barat dan Jawa Tengah. Maka, pelaksanaan Pasanggiri Mojang Jajaka 2018 ini memilih tema <em>Langensari Nyari<\/em>,\u201d ungkap Ketua Paguyuban Mojang Jajaka Kota Banjar, Asep Saefudin (27), Minggu (29\/07).<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-large wp-image-1864\" src=\"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2018\/07\/WhatsApp-Image-2018-07-29-at-17.29.24-1024x682.jpeg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"682\" srcset=\"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2018\/07\/WhatsApp-Image-2018-07-29-at-17.29.24-1024x682.jpeg 1024w, https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2018\/07\/WhatsApp-Image-2018-07-29-at-17.29.24-300x200.jpeg 300w, https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2018\/07\/WhatsApp-Image-2018-07-29-at-17.29.24-768x512.jpeg 768w, https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2018\/07\/WhatsApp-Image-2018-07-29-at-17.29.24.jpeg 1280w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: verdana, geneva, sans-serif;\">Dipilihnya tema\u00a0<em>Langensari Nyari <\/em>tentu bukan tanpa alasan. Diketahui, Langensari merupakan wilayah Kota Banjar yang sangat berdekatan dengan Jawa Tengah. Diyakini kultur sosial budaya\u00a0 di Langensari terjadi elaborasi perpaduan budaya, baik tradisi lisan serta bahasa.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: verdana, geneva, sans-serif;\">\u201cIni sangat perlu untuk tereksplorasi potensi Banjar yang jarang dimiliki oleh daerah lainya di Jawa Barat,\u201d imbuh dia.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: verdana, geneva, sans-serif;\">Selain menjadi kontestan Moka Kota Banjar, Asep berharap bagi setiap peserta harus menjadi sosok publik figur dengan tugas memberikan edukasi kesadaran masyarakat untuk berbudaya serta sadar wisata. Dengan menciptakan kultur tersebut dirinya meyakini akan terjadi dampak besar terhadap pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM).<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: verdana, geneva, sans-serif;\">\u201cTentu kami sebagai kaum Milenial, memiliki harapan besar akan perkembangan budaya di Kota Banjar. Oleh karena itu, kami sering melakukan kegiatan sosial yang berinteraksi langsung dengan masyarakat dengan tujuan memberikan pemahaman edukasi dan mengajak untuk sadar budaya dan wisata sehingga Banjar kedepan, pertumbuhan perokomian dari sektor budaya dan pariwisata menjadi salah satu indikator penting meningkatnya kesejahteraan masyarakat,\u201d ucap dia.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: verdana, geneva, sans-serif;\">Hal senada diungkapkan Pendiri <strong><a href=\"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/2018\/06\/27\/founder-etnografi-id-gunakan-hak-suara-dalam-pilkada-serentak-2018\/\">ETNOGRAFI News Institute<\/a>,<\/strong> Syarif Hidayat bahwa peran dari Mojak Jajaka ini jangan hanya menjadi sebuah simbol tanpa memiliki nilai makna. Dia menuturkan Mojang Jajaka bisa jadi sebagai pelopor perkembangan budaya di Kota Banjar. Karena kata dia dengan adanya pasanggiri Mojang Jajaka tersebut\u00a0 akan menumbuhkan literasi budaya dengan konteks memahami dan mengaplikasikan di tengah masyarakat.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: verdana, geneva, sans-serif;\">\u201cBerharap Moka menjadi bagian dari pelaksanaan pendidikan karakter \u00a0yang memberikan pemahaman terhadap budaya bangsa Indonesia,\u201d sebutnya.<strong>(anggoro)<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANJAR, ETNOGRAFI.ID\u2014Sebanyak 34 kontestan Mojang Jajaka akan berkompetisi untuk meraih mahkota Moka Kota Banjar 2018. Bertajuk \u201cLangensari Nyari\u201d menyiratkan adanya upaya nonoman Banjar untuk mencari identitas budaya di wilayah perbatasan. Dua wilayah ini yakni provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah sehingga jati diri Banjar Patroman yang hidup ditengah akulturasi budaya kedua daerah. \u201cBanjar itu unik. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":1865,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[22],"tags":[254,253],"class_list":["post-1863","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-budaya","tag-etnografi-news-institute","tag-mojang-jajaka-kota-banjar"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1863","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1863"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1863\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1865"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1863"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1863"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1863"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}