{"id":1889,"date":"2018-08-09T21:12:58","date_gmt":"2018-08-09T14:12:58","guid":{"rendered":"https:\/\/etnografi.online\/?p=1889"},"modified":"2018-08-09T21:12:58","modified_gmt":"2018-08-09T14:12:58","slug":"bertahan-ditengah-era-globalisasi-kaulinan-buhun-dilestarikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/2018\/08\/09\/bertahan-ditengah-era-globalisasi-kaulinan-buhun-dilestarikan\/","title":{"rendered":"Bertahan Ditengah Era Globalisasi, Kaulinan Buhun Dilestarikan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\"><strong>BANJAR, ETNOGRAFI.ID\u2014<\/strong>Pesatnya peradaban manusia di dunia yang berbasis teknologi berdampak besar pada pergeseran budaya setiap negara. Apalagi era globalisasi pasar bebas dunia, terus melaju dan berkembang dengan pesat. Dampaknya pun terasa di Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Sebagai bangsa majemuk yang memiliki keragaman suku dan budaya, era digitaliasi atau disebut dengan revolusi industri keempat terjadi pergeseran pola hidup. Meski demikian, perlu adanya gerakan bersama untuk tetap mempertahankan, memanfaatkan, melestarikan dan mengembangkan budaya khas Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Dalam rangka Meriahkan Kemerdekaan Indonesia ke 73, Dinas pendidikan dan Kebudayaan Kota Banjar gelar lomba permainan tradisional antar Sekolah Dasar se-Kota Banjar di Taman Kota, Kamis (9\/08\/2018).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Lomba permainan tradisional yang diikuti seluruh sekolah dasar diikuti dengan nuansa kemeriahan peserta pun antusias mengikutinya baik dari kalangan guru maupun pelajar. Tentu permainan ini masih tetap bertahan ditengah kemajuan peradaban dunia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Kepala Bidang Kebudayaan Kota Banjar, Oom Supriatna menegaskan bahwa permainan tradisional harus dilestarikan dan dikenalkan kepada anak anak. Karena permainan ini merupakan bagian dari produk hasil peradaban manusia jaman dahulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">&#8220;Melalui kegiatan ini diharapkan anak-anak bisa\u00a0lebih mengenal kembali permainan tradisional, apalagi sekarang mereka lebih sering main gadget,&#8221; ucapnya<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Lebih kanjut Oom mengatakan, sedikitnya ada enam permainan tradisional yang dilombalan anatara lain engkrang, urung batok,\u00a0 sorodot gaplok,\u00a0 rorodaan, perepet jengkol dan bedil jepret.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">&#8220;Total ada 80 tim dengan jumlah keseluruhan peserta mencapai 600 orang termasuk guru dan pembimbing,&#8221;pungkasnya. <strong>(Anggoro)<\/strong><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANJAR, ETNOGRAFI.ID\u2014Pesatnya peradaban manusia di dunia yang berbasis teknologi berdampak besar pada pergeseran budaya setiap negara. Apalagi era globalisasi pasar bebas dunia, terus melaju dan berkembang dengan pesat. Dampaknya pun terasa di Indonesia. Sebagai bangsa majemuk yang memiliki keragaman suku dan budaya, era digitaliasi atau disebut dengan revolusi industri keempat terjadi pergeseran pola hidup. Meski [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":1890,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[22],"tags":[261],"class_list":["post-1889","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-budaya","tag-kaulinan-barudak"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1889","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1889"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1889\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1890"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1889"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1889"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1889"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}