{"id":1921,"date":"2018-08-14T20:19:35","date_gmt":"2018-08-14T13:19:35","guid":{"rendered":"https:\/\/etnografi.online\/?p=1921"},"modified":"2018-08-14T20:20:07","modified_gmt":"2018-08-14T13:20:07","slug":"mataram-kuno-wariskan-hidup-bertoleransi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/2018\/08\/14\/mataram-kuno-wariskan-hidup-bertoleransi\/","title":{"rendered":"Mataram Kuno Wariskan Hidup Bertoleransi"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\"><strong>ETNOGRAFI.ID&#8211;<\/strong>Peaceful co-existence mempunyai Arti hidup Berdampingan dengan damai, Konsep ini dicetuskan oleh Roeslan Abdulgani pada saat acara Konferensi Asia Afrika berlangsung.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Dalam Konferensi Asia Afrika itu juga dicetuskan suatu pandangan mendasar yang digunakan untuk meredakan perang dingin.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Pandangan dasar itu adalah pandangan non-konfrontatif dimana pandangan tersebut mengutamakan toleransi terhadap pandangan hidup satu sama lain.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Jiwa toleransi dalam artikel Abdulgani adalah jiwa \u201clive-and-let-live.\u201d Jiwa \u201chidup berdampingan secara damai.\u201d Jiwa \u201cpeaceful co-existence,\u201d yang mecakup prinsip saling menghargai terhadap integritas dan kedaulatan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Jiwa toleransi ini juga sudah hidup di kalangan negara-negara Asia-Afrika, baik yang komunis maupun yang non-komunis ditingkatkan menjadi Dasasila, yaitu \u201cThe Ten Bandung Principles on the Promotion of World Peace and Cooperation.\u201d (Abdulgani, 1985;313).<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Jauh pada abad 8 Konsep ini ternyata sudah dicetuskan lho para pembaca. Lebih tepatnya pada masa Kerajaan Mataram Kuno.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Kerajaan Mataram Kuno terletak di Jawa Tengah dengan intinya yang sering disebut Bumi Mataram.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Daerah ini dikelilingi oleh pegunungan dan gununggunung, seperti Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi-Merbabu, Gunung Lawu, dan Pegunungan Sewu.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Daerah ini juga dialiri oleh banyak sungai, seperti Sungai Bogowonto, Sungai Progo, Sungai Elo dan Sungai Bengawan Solo. Itulah sebabnya daerah ini sangat subur.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Kerajaan Mataram Kuno atau juga yang sering disebut Kerajaan Medang merupakan kerajaan yang bercorak agraris.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Tercatat terdapat 3 Wangsa (dinasti) yang pernah menguasai Kerjaan Mataram Kuno yaitu Wangsa Sanjaya, Wangsa Syailendra dan Wangsa Isana. Wangsa Sanjaya merupakan pemuluk Agama Hindu beraliran Syiwa sedangkan Wangsa Syailendra merupakan pengikut agama Budah, Wangsa Isana sendiri merupakan Wangsa baru yang didirikan oleh Mpu Sindok.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Raja pertama Kerajaan Mataram Kuno adalah Sanjaya yang juga merupakan pendiri Wangsa Sanjya yang menganut agama Hindu.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Setelah wafat, Sanjaya digantikan oleh Rakai Panangkaran yang kemudian berpindah agama Budha beraliran Mahayana. Saat itulah Wangsa Sayilendra berkuasa. Pada saat itu baik agama Hindu dan Budha berkembang bersama di Kerajaan Mataram Kuno.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Mereka yang beragama Hindu tinggal di Jawa Tengah bagian utara, dan mereka yang menganut agama Buddha berada di wilayah Jawa Tengah bagian selatan<\/span><br \/>\n<span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Konsep ini Berawal Semula terjadi perebutan kekuasan, namun kemudian terjalin persatuan ketika terjadi perkawinan antara Pikatan (Sanjaya) beragama Hindu dengan Pramodhawardhani (Sailendra) beragama Buddha.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Sejak itu agama Hindu dan Buddha hidup berdampingan secara damai. Hal ini menunjukkan betapa besar jiwa toleransi bangsa Indonesia.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Toleransi ini merupakan salah sifat kepribadian bangsa Indonesia yang wajib kita lestarikan agar tercipta kedamaian, ketenteraman dan kesejahteraan<\/span>.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ETNOGRAFI.ID&#8211;Peaceful co-existence mempunyai Arti hidup Berdampingan dengan damai, Konsep ini dicetuskan oleh Roeslan Abdulgani pada saat acara Konferensi Asia Afrika berlangsung. Dalam Konferensi Asia Afrika itu juga dicetuskan suatu pandangan mendasar yang digunakan untuk meredakan perang dingin. Pandangan dasar itu adalah pandangan non-konfrontatif dimana pandangan tersebut mengutamakan toleransi terhadap pandangan hidup satu sama lain. Jiwa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":1922,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[48],"tags":[267,268],"class_list":["post-1921","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-humaniora","tag-mataram-kuno","tag-toleransi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1921","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1921"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1921\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1922"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1921"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1921"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1921"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}