{"id":2079,"date":"2018-09-25T08:43:45","date_gmt":"2018-09-25T01:43:45","guid":{"rendered":"https:\/\/etnografi.online\/?p=2079"},"modified":"2018-09-25T09:09:55","modified_gmt":"2018-09-25T02:09:55","slug":"pentingnya-peran-orang-tua-kandung-di-dalam-kehidupan-anak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/2018\/09\/25\/pentingnya-peran-orang-tua-kandung-di-dalam-kehidupan-anak\/","title":{"rendered":"Pentingnya Peran Orang Tua Kandung di Dalam Kehidupan Anak"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\"><strong>OPINI, ETNOGRAFI.ID&#8211;<\/strong>Begitu banyak manusia di negeri Indonesia ini. Banyak orang yang berpasangan-pasangan serta memiliki anak. Ada juga yang berpasangan-pasangan tapi belum dikarunia anak. Ada juga orang-orang yang belum mempunyai pasangan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Namun, sangat disayangkan di negara kita ini banyak kasus perceraian. Pasangan banyak yang bercerai dan yang lebih parahnya lagi, sudah memiliki pasangan, sudah memiliki seorang anak, tetapi mereka bercerai. Hal tersebut disebabkan masalah sepele atau pun masalah besar.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Sesungguhnya perceraian di dalam agama Islam tidak diperbolehkan, tetapi kebanyakan orang Indonesia tidak memikirkan itu. Dilarang atau tidak, kebanyakan dari mereka yang bercerai memilih membebaskan kepahitan dalam berrumah tangga dan mencari kebahagiaannya dengan jalan perceraian.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Padahal jika ditinjau lebih dalam, perceraian itu berdampak negatif. Misalnya, merugikan dan menyengsarakan banyak pihak.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Salah satu dampak negatif dari perceraian yaitu membuat setiap anggota keluarga menjalani hidup sehari-hari dengan kesendirian. Andai saja kesendirian yang dijalani setelah perceraian itu membuat hidup setiap anggota keluarga lebih cerah, lebih bahagia, tapi itu sebuah hal yang hampir tidak mungkin dirasakan. Para korban lebih sering merasa lebih sengsara.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Tugas rumah tangga terpaksa dijalani oleh masing-masing. Setelah perceraian, fisik dan mental setiap korban menjadi tertanggu.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Hal tersebut terasa lebih berat bagi pasangan yang sudah memiliki anak. Apa akibatnya? Anak adalah keturunan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Anak adalah penerus dari orang tua, penerus agama, bangsa, dan negar. Anak adalah generasi muda yang mental dan fisiknya harus dibentuk sejak kecil. Kebanyakan orang tua yang bercerai tidak memikirkan, \u201cBagaimana masa depan anaknya?\u201d Meskipun ada beberapa anak dari korban perceraian yang sukses, tapi saya ragu akan kesusksesan anak ini untuk menyembuhkan luka dalam jiwanya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Mental anak korban perceraian dan mental anak yang kedua orang tua nya tetap utuh dan akur pasti berbeda. Anak hasil perceraian biasanya banyak merasakan kesedihan dan kecemburuan sosial terhadap teman-teman sebayanya yang orang tuanya tidak bercerai.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Ketika anak hasil perceraian sudah beranjak dewasa, pasti muncul pertanyaan dalam hatinya, \u201cMengapa orang tuaku tidak bersama lagi? Mengapa mereka malah berpisah?\u201d Dengan berpikir begitu, mereka akan merasa lebih sedih bahkan mematahkan semangatnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Kebanyakan dari mereka melampiaskan kekesalannya ke arah yang negatif. Selain itu, biasanya orang tua yang telah bercerai mencari lagi pasangan barunya. Keputusan ini biasanya tidak dipikirkan secara matang oleh setiap orang tua yang bercerai, mereka mengutamakan egonya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Mereka tidak memikirkan bagaimana perasaan anaknya, \u201cApakah anaknya dapat menerima orangtua baru nya? Apakah setelah menikah dengan pasangan barunya anak tersebut bisa bahagia dan merasalebih aman?\u201d Mungkin saja seorang anak bisa menerima kedatangan orang tua barunya dengan biasa biasa saja di depan orang tua kandungnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Namun, di belakang orang tuanya, mereka sangatlah sedih dan tidak menginginkan kehadiran sosok orang tua baru.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Orang tua bercerai yang menikah lagi ketika anaknya masih usia lima sampai tujuh tahun, cenderung tidak menjadikan hal tersebut sebagai masalah.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Namun ketika beranjak dewas, pasti muncul keinginan untuk menyatukan kembali hubungan kedua orang tua kandungnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Beberapa kasus perceraian mengorbankan perasaan anaknya sehingga merasakan serba salah, patah semangat, dan sakit hati ketika melihat sikap orang tua baru yang sesungguhnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Namun apalah daya seorang anak, mereka hanya bisa pasrah dengan takdirnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Saat ini kecil sekali presentase anak dari korban perceraian yang tegar dan tetap menjalani hidupnya pada hal positif. Oleh karena itu perceraian sudah sepatutnya dihindari. Salah satu solusi menjauhi perceraian adalah setiap orang yang berniat untuk menikah harus menanamkan niat yang sungguh-sungguh untuk menikah hanya satu kali dalam seumur hidup.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Ingatlah kebahagiaan anak Anda, hilangkan lah ego untuk mendapatkan pasangan baru yang belum tentu baik untuk Anda dan anak Anda!<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-2080 size-medium\" src=\"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2018\/09\/IMG-20180925-WA0000-169x300.jpg\" alt=\"\" width=\"169\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2018\/09\/IMG-20180925-WA0000-169x300.jpg 169w, https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2018\/09\/IMG-20180925-WA0000-576x1024.jpg 576w, https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2018\/09\/IMG-20180925-WA0000.jpg 720w\" sizes=\"auto, (max-width: 169px) 100vw, 169px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Penulis<\/span><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em><strong><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Kinanti Nuraini, Siswa SMA Negeri 1 Parongpong, Bandung, Jawa Barat<\/span><\/strong><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>OPINI, ETNOGRAFI.ID&#8211;Begitu banyak manusia di negeri Indonesia ini. Banyak orang yang berpasangan-pasangan serta memiliki anak. Ada juga yang berpasangan-pasangan tapi belum dikarunia anak. Ada juga orang-orang yang belum mempunyai pasangan. Namun, sangat disayangkan di negara kita ini banyak kasus perceraian. Pasangan banyak yang bercerai dan yang lebih parahnya lagi, sudah memiliki pasangan, sudah memiliki seorang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":2081,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[175],"tags":[26,300,299],"class_list":["post-2079","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini","tag-bandung","tag-kinanti-nuraini","tag-sman-1-parongpong"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2079","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2079"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2079\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2081"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2079"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2079"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2079"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}