{"id":2369,"date":"2018-10-07T19:21:21","date_gmt":"2018-10-07T12:21:21","guid":{"rendered":"https:\/\/etnografi.online\/?p=2369"},"modified":"2018-10-07T19:23:45","modified_gmt":"2018-10-07T12:23:45","slug":"kisah-pertemuan-prabu-siliwangi-dan-dayang-sumbi-salak-putih","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/2018\/10\/07\/kisah-pertemuan-prabu-siliwangi-dan-dayang-sumbi-salak-putih\/","title":{"rendered":"Kisah Pertemuan Prabu Siliwangi dan Dayang Sumbi Salak Putih"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\"><strong>SEJARAH, ETNOGRAFI.ID&#8211;<\/strong>Situs salak putih yang berada di Dusun Sukaharja, Desa Karyamukti, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, merupakan situs peninggalan zaman Kerajaan Siliwangi. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Menurut tradisi lisan Situs ini menjadi legenda pertemuan antara Prabu Siliwangi dengan anaknya yang bernama Dayang Sumbi, meski situs ini sudah berumur ratusan tahun, namun kondisinya hingga kini masih terawat dengan baik.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Usut punya usut, situs ini dinamai salak putih lantaran terdapat sekumpulan pohon salak yang sudah berumur ratusan tahun dengan duri-durinya yang berwarna putih. Duri dalam pohon salak tersebut sudah terkenal dan banyak tamu yang sengaja mencari duri dari pohon tersebut yang memiliki lekuk seperti keris.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Salak putih sendiri tidak pernah berbuah. Konon, buah salaknya sendiri hanya orang tertentu yang bisa mendapatkannya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Kuncen yang juga pengurus situs salak Putih Yayat Hidayat menuturkan, situs ini merupakan tempat pertemuan Prabu Siliwangi dengan Putrinya yakni Dayang Sumbi.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_2371\" aria-describedby=\"caption-attachment-2371\" style=\"width: 823px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-2371\" src=\"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2018\/10\/WhatsApp-Image-2018-10-07-at-18.10.00.jpeg\" alt=\"\" width=\"823\" height=\"440\" srcset=\"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2018\/10\/WhatsApp-Image-2018-10-07-at-18.10.00.jpeg 823w, https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2018\/10\/WhatsApp-Image-2018-10-07-at-18.10.00-300x160.jpeg 300w, https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2018\/10\/WhatsApp-Image-2018-10-07-at-18.10.00-768x411.jpeg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 823px) 100vw, 823px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-2371\" class=\"wp-caption-text\">Jurnalis Banjar Patroman (JBP) Sedang Melaksanakan Penelusuran Kisah Pertemuan Prabu Siliwangi dengan Anaknya Dayang Sumbi<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">&#8220;Tempat ini merupakan tempat pertemuan antara Prabu Siliwangi dengan putrinya yang bernama Dayang Sumbi dan juga salah satu tempat peristirahatan sang raja,\u201d ungkap Yayat saat ditemui beberapa waktu lalu.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Menurut Yayat,\u00a0 pengunjung cagar budaya situs Salak Putih tidak hanya datang dari daerah Priangan Timur namun dikunjungi juga warga dari luar daerah di Jawa Barat<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">&#8220;Yang datang banyak, bukan hanya dari Banjar saja, dari Ciamis dari luar juga ada seperti Solo&#8221;, imbuh dia.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Yayat menambahkan, para pengunjung yang datang ke situs cagar budaya Salak Putih tidak hanya sekedar ingin tahu namun ada pula yang menyalahgunakan seperti menjadi tempat pemujaan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">&#8220;Yang kesini itu dari berbagai kalangan. Ada juga yang datang cuma nyari durinya saja, durinya kadang ada yang menyerupai lekuk keris. Kalau mau ada tamu, suka ada wangsit yang berbisik, kalau baik di perbolehkan dan kalau niatnya jahat tidak boleh datang.\u201d<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Yayat selalu mengingatkan para pengunjung untuk tidak berbuat musyrik dan menekankan untuk lebih meningkatkan keimanan dan ketakwaan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">&#8220;Ya kalau mau berkunjung mah gak papa, yang gak boleh itu kalau niatnya sudah jahat, jelas Yayat<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-family: georgia, palatino, serif;\">Yayat berharap pemerintah Kota Banjar bisa lebih memperhatikan pelestraian di situs Salak Putih, agar nantinya bisa menjadi potensi pariwisata Banjar. <strong>(AO)<\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SEJARAH, ETNOGRAFI.ID&#8211;Situs salak putih yang berada di Dusun Sukaharja, Desa Karyamukti, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, merupakan situs peninggalan zaman Kerajaan Siliwangi. Menurut tradisi lisan Situs ini menjadi legenda pertemuan antara Prabu Siliwangi dengan anaknya yang bernama Dayang Sumbi, meski situs ini sudah berumur ratusan tahun, namun kondisinya hingga kini masih terawat dengan baik. Usut punya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":2370,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[19],"tags":[180,321],"class_list":["post-2369","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sejarah","tag-kota-banjar","tag-salak-putih"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2369","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2369"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2369\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2370"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2369"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2369"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2369"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}