{"id":2498,"date":"2018-12-11T19:33:56","date_gmt":"2018-12-11T12:33:56","guid":{"rendered":"https:\/\/etnografi.online\/?p=2498"},"modified":"2018-12-11T19:36:05","modified_gmt":"2018-12-11T12:36:05","slug":"inilah-isu-ruang-diskusi-mahasiswa-di-kota-banjar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/2018\/12\/11\/inilah-isu-ruang-diskusi-mahasiswa-di-kota-banjar\/","title":{"rendered":"Inilah Isu Ruang Diskusi Mahasiswa Kota Banjar"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>BANJAR, ETNOGRAFI.ID\u2014<\/strong>Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STISIP Bina Putera Banjar menggelar diskusi publik. Diskusi yang dihadari oleh unsur organisasi mahasiswa seperti, HMI, GMNI tersebut membahasa tentang nasib masa depan ruang intelektual di Kota Banjar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketua BEM STISIP Bina Putera Banjar, Peri Heriyanto menerangkan bahwa terselenggaranya diskusi terbuka ini memiliki misi besar yakni membahas tentang \u00a0penegakan Permenristekdikti No 55 tahun 2018. Bagi dia, dengan terbitnya peraturan tersebut merupakan angin segar bagi para mahasiswa yang ingin mengembangkan dan meningkatkan kualitas diri dengan cara berorganisasi, tentu organisasi yang telah diatur menurut hukum.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cRuang diskusi ini merupakan upaya kami untuk memberikan fasilitas kepada mahasiswa untuk lebih mengembangkan cara berfikir. Sehingga mahasiswa melek organisasi dan (rakuso) rasional, analisis, kritis, universal sistematis dan obyektif tentunya,\u201d terang dia, Selasa (11\/12\/2018).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dia mengharapkan BEM STISIP BP Banjar bisa menjadi pelopor organisasi intra sekolah tinggi yang ada di Kota Banjar dalam rangka pengembangan diri melalui gerakan literasi, serta diskusi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara, Sekretaris Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Kota Banjar, Fahri Aditya menjelaskan Pasal 1 Permenristekdikti No 55 tahun 2018 bahwa perguruan tinggi bertanggungjawab melakukan pembinaan ideologi bangsa yang mengacu pada empat pilar kebangsaan yaitu UUD 1945, Pancasila, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika kepada mahasiswa dalam bentuk kegiatan kurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBisa dibayangkan jika berbagai elemen mahasiswa bisa saling terkoneksi dan bekerja secara kolektif kita akan melihat gagasan-gagasan tentang Indonesia,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lebih Lanjut Fahri menambahkan, terbitnya Permenristekdikti No 55 tahun 2018 bisa jadi sebuah nafas baru bagi mahasiswa untuk bisa berorganisasi baik itu internal maupun external.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBerorganisasi kita akan diajarkan dari pola akademisi dan organisasi external sendiri lebih kepada implentasi dari nilai-nilai yang didapatkan pola akademis,\u201d tambah Fahri. <strong>(red)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANJAR, ETNOGRAFI.ID\u2014Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STISIP Bina Putera Banjar menggelar diskusi publik. Diskusi yang dihadari oleh unsur organisasi mahasiswa seperti, HMI, GMNI tersebut membahasa tentang nasib masa depan ruang intelektual di Kota Banjar. Ketua BEM STISIP Bina Putera Banjar, Peri Heriyanto menerangkan bahwa terselenggaranya diskusi terbuka ini memiliki misi besar yakni membahas tentang \u00a0penegakan Permenristekdikti [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":2499,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[120],"tags":[344,338,130],"class_list":["post-2498","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-bem-stisip-bp-banjar","tag-gmni-kota-banjar","tag-hmi-kota-banjar"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2498","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2498"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2498\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2499"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2498"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2498"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/etnografi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2498"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}