{"id":20505,"date":"2016-01-29T13:59:09","date_gmt":"2016-01-29T06:59:09","guid":{"rendered":"http:\/\/www.wartapriangan.com\/?p=20505"},"modified":"2016-01-29T13:59:09","modified_gmt":"2016-01-29T06:59:09","slug":"ppn-sudah-dihapus-harga-daging-sapi-di-tasik-tetap-tinggi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/2016\/01\/29\/ppn-sudah-dihapus-harga-daging-sapi-di-tasik-tetap-tinggi\/","title":{"rendered":"PPN Sudah Dihapus, Harga Daging Sapi di Tasik Tetap Tinggi"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>wartapriangan.com, <a href=\"http:\/\/www.wartapriangan.com\/category\/berita-tasikmalaya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">BERITA TASIKMALAYA<\/a><\/strong>.\u00a0Pajak Penambahan Nilai (PPN) untuk sapi sudah dibatalkan tetapi harga daging sapi di Tasik masih tinggi. Hal itu dikeluhkan sejumlah pedagang daging sapi yang ditemui di Pasar Cikurubuk, Tasikmalaya, Jumat (29\/01).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari pantauan Warta Priangan di lapangan. Kini, harga daging sapi di Tasik masih kisaran Rp125 ribu\u2013RP 145 ribu per kilogram. Sedangkan harga tertinggi daging HAS. \u201cSudah satu minggu lalu, daging sapi itu naik. Sampai sekarang,\u201d ujar pedagang daging sapi di Pasar Cikurubuk, Tasikmalaya, Jawa Barat, Hen Hen Hendayani.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurutnya, harga daging sapi sebelum naik masih kisaran Rp110.000 per kilogram. Dengan demikian, para pedagang merasa dihapusnya PPN tidak berpengaruh pada harga daging sapi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hal serupa dikatakan Rina Ratih, seorang pedagang lainnya di Pasar Cikurubuk, Tasikmalaya. Menurutnya, sejak diramaikan adanya pajak untuk pemotongan sapi, harga daging sapi terus melonjak. Bahkan, satu kilonya daging sapi mencapai Rp145.000. \u201cWalau agak turun, kemarin Omay masih menjual Rp125.000\u2013135.000,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kedua pedagang itu berharap, PPN benar-benar dihapuskan. Harga tertinggi daging sapi sekira Rp 100 ribu per kilogram harus diterapkan. \u201cPedagang daging sapi berharap pemerintah menerapkan kebijakan lebih kepada pedagang. Karena aturan belum berlaku, sudah memberikan dampak negatif di pasar. Buktinya, banyak pedagang yang rugi,\u201d keluh Rina.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Omset Menurun.<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ditambahkan Rina, sejak minggu lalu, pedagang terus mengalami penurunan omset\/pendapatan cukup tajam, sekira 50-70 persen. Hen Hen Hendayani dan Rina Ratih mengaku serbasalah, karena ketika pedagang memilih untuk menurunkan harga daging agar penjualan tetap baik, tetapi dipastikan akan merugi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSekarang sangat sulit, serbasalah. Dijual murah, ramai tapi rugi. Jual sesuai harga ya seperti sekarang, turun dratis,\u201d keluh para pedagang sapi di Pasar Cikurubuk tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebelum harga naik, Rina mengaku mampu menjual daging sapi 80 kilogram per hari. Setelah harga naik hanya terjual 30\u201340 kilogram. Sementara itu, stok daging sapi di pasar masih aman walaupun ada pengurangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada saat harga masih sedikit lebih murah, Rina menerima lima ekor sapi yang sudah dipotong dan siap jual. Sejak isu PPN, Rina hanya menerima dua ekor sapi. Oleh karena itu, semua pedagang menunggu kebijakan pemerintah agar daging sapi murah serta stok yang banyak. <strong>(Andri\/WP)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>wartapriangan.com, BERITA TASIKMALAYA.\u00a0Pajak Penambahan Nilai (PPN) untuk sapi sudah dibatalkan tetapi harga daging sapi di Tasik masih tinggi. Hal itu dikeluhkan sejumlah pedagang daging sapi yang ditemui di Pasar Cikurubuk, Tasikmalaya, Jumat (29\/01). Dari pantauan Warta Priangan di lapangan. Kini, harga daging sapi di Tasik masih kisaran Rp125 ribu\u2013RP 145 ribu per kilogram. Sedangkan harga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":19,"featured_media":19850,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[20],"tags":[19],"class_list":["post-20505","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-tasikmalaya","tag-berita-tasikmalaya"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20505","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/users\/19"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=20505"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20505\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=20505"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=20505"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=20505"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}