{"id":21858,"date":"2016-02-15T23:50:52","date_gmt":"2016-02-15T16:50:52","guid":{"rendered":"http:\/\/www.wartapriangan.com\/?p=21858"},"modified":"2016-02-15T23:50:52","modified_gmt":"2016-02-15T16:50:52","slug":"gunungan-sampah-di-pasar-relokasi-limbangan-dikeluhkan-warga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/2016\/02\/15\/gunungan-sampah-di-pasar-relokasi-limbangan-dikeluhkan-warga\/","title":{"rendered":"Gunungan Sampah di Pasar Relokasi Limbangan Garut Dikeluhkan Warga"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>wartapriangan.com, <a href=\"http:\/\/www.wartapriangan.com\/category\/berita-garut\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">BERITA GARUT<\/a><\/strong>.\u00a0Menumpuknya sampah di Pasar relokasi Limbangan menyebabkan Lapang Pasopati, Desa Limbangan dipenuhi gundukan sampah.\u00a0 Tumpukan sampah tersebut tidak hanya merusak pemandangan akan tetapi mengganggu kenyamanan warga setempat dan para siswa karena menimbulkan polusi yang cukup parah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Terjadinya tumpukan sampah di sekitar tempat relokasi Pasar Limbangan tersebut dikeluhkan warga, siswa, serta pihak sekolah. Apalagi selama ini telah cukup banyak warga dan siswa yang terkena penyakit akibat polusi dari tumpukan sampah tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut petugas kebersihan pasar tersebut, Anda (46), tumpukan sampah pasar dari kios dan jongko pedagang terpaksa dibuang di bagian belakang pasar. Karena tidak ada tempat pembuangan sampah yang\u00a0disediakan secara khusus. Sampah tersebut biasanya diangkut oleh petugas dinas kebersihan setiap dua pekan sekali. Sementara dia bersama rekannya mengumpulkan sampah dari kios dan jongko setiap hari\u00a0dan dibuangnya di tempat itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dampak dari polusi akibat tumpukan sampah di lokasi itu, di antaranya dirasakan oleh Nurhayati (32). Pedagang kelontong ini mengaku mengalami gangguan pada bagian hidungnya sehingga tak bisa lagi\u00a0mengecap akibat bau sampah yang dihirupnya setiap hari. Selama kurun waktu hampir tiga tahun, tuturnya, dia terus menerus\u00a0merasakan bau tidak sedap dari tumpukan sampah. Hal ini sama sekali tidak bisa dihindarinya karena kios tempatnya berjualan berada tepat di samping tumpukan sampah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Diakui Nurhayati, awalnya dia tidak mengalami masalah penciuman ketika sampah belum menggunung seperti itu. Namun lama-kelamaan,bau menyengat sampah seolah tak lagi tercium meski berada di hadapannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mulanya dia sempat berpikir tak terciumnya bau sampah itu karena sudah biasa. Namun ternyata dia bukan hanya tak mencium bau sampah tapi juga bau lainnya sehingga dia memeriksakan diri ke dokter. &#8220;Hasil pemeriksaan dokter cukup mengagetkan saya. kata dokter, saya mengalami gejala penyakit polip hidung, dan saya yakin ini karena terlalu sering mencium bau sampah yang sangat tak sedap itu,&#8221; katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>SEMPAT MENGADU, TAPI TIDAK DITANGGAPI (Halaman selanjutnya&#8230;)<\/strong><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yayan (30), pedagang warung kopi di pasar relokasi, menyatakan, banyak pedagang yang mengalami gangguan pernapasan, batuk,mual, dan gangguan penciuman. Mereka sudah mengadukan masalah gunungan sampah tersebut ke dinas terkait, tapi tak beroleh respons juga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Padahal, ungkap Yayan, para pedagang membayar retribusi kebersihan setiap hari sebesar Rp 1.000-Rp 2.000, tetapi pengangkutan sampah hanya berjalan setiap dua pekan sekali. Masyarakat dan pedagang<br \/>\nberharap pengangkutan dilakukan setiap hari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kalau diangkut sedikit-sedikit, asal tiap hari pasti berkurang. Bukan hanya pedagang, masyarakat sekitar dan pembeli pun terkena dampaknya,&#8221; ucapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keluhan tentang keberadaan pedagang pasar di Lapang Pasopati juga dilontarkan sejumlah warga sekitar, Nur (43), misalnya. Menurut warga Jalan Bunisari ini, saat ini kondisinya sudah tidak nyaman lagi. Selain bising oleh aktifitas pasar, yang lebih parah lagi kondisi lingkungan yang tidak lagi sehat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Jalan jadi becek dan kotor serta selalu ada bau menyengat yang sangat mengganggu. Ini sudah benar-benar tidak sehat sehingga kami berharap aktivitas pasar kembali dipindahkan ke pasar yang lama karena kini sudah selesai dibangun,&#8221; komentar Nur.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>CEKCOK (Halaman selanjutnya&#8230;)<\/strong><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara itu Senin (15\/2) sempat terjadi percekcokan antara pedagang pasar yang pro dilakukan pemindahan ke lokasi lama dengan yang kontra. Hal ini dipicu adanya pengumpulan tanda tangan yang dilakukan pihak yang pro sebagai bentuk dukungan agar mereka segera dipindahkan ke lokasi pasar yang dulu dan saat ini telah selesai dibangun.<br \/>\nNamun aksi pengumpulan tanda tangan ini mendapat perlawanan dari pihak pedagang yang tak setuju rencana pemindahan dengan alasan belum adanya kejelasan terkait harga kios yang baru dibangun di lokasi pasar lama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beruntung aksi cekcok antar dua kubu yang berbeda pendapat ini tak sampai meluas karena segera diredam oleh unusr Muspika setempat. Untuk meredakan percekcokan, pihak Polsek Limbangan pun membawa dua kubu ke Mapolsek untuk dilakukan perundingan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kapolsek Limbangan, Komisaris Ujang syarifudin, membenarkan terjadinya cekcok antar dua kubu pedagang di Pasar Limbangan. Namun hal itu sudah diselesaikannya di Mapolsek dengan memepertemuakn kedua belah pihak untuk melakukan musyawarah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Memang sempat ada percekcokan antara pihak yang menginginkan segera dilaksanakan perpindahan ke pasar lama dengan pihak yang menolak. Namun kini hal itu sudah beres setelah kita kumpulkan kedua belah<br \/>\npihak di Mapolsek,&#8221; kata Syarifudin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Syarifudin, dalam pertemuan yang melibatkan kedua belah pihak di Mapolsek, dirinya meminta agar keduanya sama-sama menahan diri. Hal ini untuk mencegah terjadinya konflik antar sesama pedagang. Dan pada akhhirnya, kedua belah pihak menyepakati untuk sama-sama menahan diri hingga ada keputusan yang jelas dari pihak Pemkab Garut. <strong>(Yayat Ruhiyat\/WP)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>wartapriangan.com, BERITA GARUT.\u00a0Menumpuknya sampah di Pasar relokasi Limbangan menyebabkan Lapang Pasopati, Desa Limbangan dipenuhi gundukan sampah.\u00a0 Tumpukan sampah tersebut tidak hanya merusak pemandangan akan tetapi mengganggu kenyamanan warga setempat dan para siswa karena menimbulkan polusi yang cukup parah. Terjadinya tumpukan sampah di sekitar tempat relokasi Pasar Limbangan tersebut dikeluhkan warga, siswa, serta pihak sekolah. Apalagi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":20,"featured_media":21859,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[3,4],"class_list":["post-21858","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-garut","tag-berita-garut","tag-garut"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21858","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/users\/20"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21858"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21858\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21858"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21858"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21858"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}