{"id":23199,"date":"2016-03-08T21:16:14","date_gmt":"2016-03-08T14:16:14","guid":{"rendered":"http:\/\/www.wartapriangan.com\/?p=23199"},"modified":"2017-10-30T13:01:05","modified_gmt":"2017-10-30T06:01:05","slug":"menyibak-tabir-sejarah-pembakaran-kampung-naga-tasikmalaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/2016\/03\/08\/menyibak-tabir-sejarah-pembakaran-kampung-naga-tasikmalaya\/","title":{"rendered":"Menyibak Tabir Sejarah Pembakaran Kampung Naga Tasikmalaya"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_23203\" aria-describedby=\"caption-attachment-23203\" style=\"width: 476px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\" wp-image-23203\" src=\"http:\/\/www.wartapriangan.com\/wp-content\/uploads\/2016\/03\/1-300x201.jpg\" alt=\"Kampung Naga dari kejauhan.\" width=\"476\" height=\"319\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-23203\" class=\"wp-caption-text\">Kampung Naga dari kejauhan. (foto: republika online)<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>wartapriangan.com, <a href=\"http:\/\/www.wartapriangan.com\/category\/berita-tasikmalaya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">BERITA TASIKMALAYA<\/a><\/strong>.\u00a0Kampung Naga di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, satu dari sekian banyak kampung adat yang masih lestari dan memegang adat tradisi nenek moyang. Mereka juga menolak intervensi dari pihak luar.<\/p>\n<p>Republika mencoba menelusuri dan menyibak sejarah kampung yang warganya sebut &#8216;Pareum Obor&#8217; atau matinya penerangan. Sebutan itu tidak lepas dari sejarah kelam pembakaran Kampung Naga oleh<span class=\"st\">pasukan Darul Islam\/Tentara Islam Indonesia (DI\/TII) <\/span>pimpinan Kartosoewiryo. Insiden itu membuat arsip Kampung Naga musnah dilumat api.<\/p>\n<p>Saat itu, DI\/TII menginginkan terciptanya negara Islam di Indonesia. Kampung Naga yang lebih mendukung Presiden Soekarno membuat tentara DI\/TII yang tidak mendapatkan simpati warga Kampung Naga membumihanguskan perkampungan tersebut pada 1956.<\/p>\n<p>Demi mencari kebenaran asal usul Kampung Naga, wartawan\u00a0<strong><em>Republika<\/em><em>.co.id<\/em><\/strong>, <strong>Fuji E Permana <\/strong>menemui Aki Maun, salah satu sesepuh kampung yang berdiri di lembah subur di antara hutan keramat dan Ciwulan yang sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray, Garut. Aki Maun juga menjadi saksi hidup pembakaran Kampung Naga tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>SELANJUTNYA&#8230;<\/strong><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<figure id=\"attachment_23202\" aria-describedby=\"caption-attachment-23202\" style=\"width: 596px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\" wp-image-23202\" src=\"http:\/\/www.wartapriangan.com\/wp-content\/uploads\/2016\/03\/kampung-naga-2-300x201.jpg\" alt=\"Aki Maun (79 tahun), salah satu warga yang menyaksikan pembakaran Kampung Naga oleh pasukan DI\/TII. (foto: republika online)\" width=\"596\" height=\"399\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-23202\" class=\"wp-caption-text\">Aki Maun (79 tahun), salah satu warga yang menyaksikan pembakaran Kampung Naga oleh pasukan DI\/TII. (foto: republika online)<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kampung Naga di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, satu dari sekian banyak kampung adat yang masih lestari dan memegang adat tradisi nenek moyang. Mereka juga menolak intervensi dari pihak luar.<\/p>\n<p>Republika mencoba menelusuri dan menyibak sejarah kampung yang warganya sebut &#8216;Pareum Obor&#8217; atau matinya penerangan. Sebutan itu tidak lepas dari sejarah kelam pembakaran Kampung Naga oleh<span class=\"st\">pasukan Darul Islam\/Tentara Islam Indonesia (DI\/TII) <\/span>pimpinan Kartosoewiryo. Insiden itu membuat arsip Kampung Naga musnah dilumat api.<\/p>\n<p>Saat itu, DI\/TII menginginkan terciptanya negara Islam di Indonesia. Kampung Naga yang lebih mendukung Presiden Soekarno membuat tentara DI\/TII yang tidak mendapatkan simpati warga Kampung Naga membumihanguskan perkampungan tersebut pada 1956.<\/p>\n<p>Demi mencari kebenaran asal usul Kampung Naga, wartawan\u00a0<strong><em>Republika<\/em><em>.co.id<\/em><\/strong>, <strong>Fuji E Permana <\/strong>menemui Aki Maun, salah satu sesepuh kampung yang berdiri di lembah subur di antara hutan keramat dan Ciwulan yang sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray, Garut. Aki Maun juga menjadi saksi hidup pembakaran Kampung Naga tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>SELANJUTNYA&#8230;<\/strong><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<figure id=\"attachment_23201\" aria-describedby=\"caption-attachment-23201\" style=\"width: 454px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\" wp-image-23201\" src=\"http:\/\/www.wartapriangan.com\/wp-content\/uploads\/2016\/03\/kampung-naga-3-300x201.jpg\" alt=\"Suasana Kampung Naga. (foto: republika online)\" width=\"454\" height=\"304\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-23201\" class=\"wp-caption-text\">Suasana Kampung Naga. (foto: republika online)<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut cerita Aki Maun, sampai tengah malam, api menyala bagai lautan. Hingga waktu Subuh, api baru mulai padam secara perlahan. Tidak ada suara ayam berkokok saat pagi, burung-burung pun enggan mendekati Kampung Naga yang menjadi tumpukan bara api.<\/p>\n<p>Satu pagi di 1956 menjadi pagi yang haru biru bagi warga Kampung Naga. Bagaimana tidak, rumah mereka terbakar di depan mata. Mereka benar-benar menyaksikan saat api menyala hingga menjadi bara kemudian padam. Selain itu, binatang ternak mereka diambil dan lumbung padi pun hangus tak tersisa.<\/p>\n<p>Setelah pagi pun warga kampung menunggu bara api tersebut benar-benar padam. Barulah kemudian mereka membersihkan sisa-sisa kebakaran. Masyarakat Kampung Naga kembali membangun rumah-rumah mereka dengan bantuan dari berbagai pihak.<\/p>\n<p>Berdasar kesaksian Aki Maun, saat itu pasukan DI\/TII tidak menyiksa atau bertindak kasar pada warga Kampung Naga. Mereka hanya menjarah makanan dan peralatan. Hal yang sungguh di luar dugaan Aki Maun, pasukan DI\/TII sampai membakar Kampung Naga.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>SELANJUTNYA&#8230;<\/strong><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<figure id=\"attachment_23203\" aria-describedby=\"caption-attachment-23203\" style=\"width: 470px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\" wp-image-23203\" src=\"http:\/\/www.wartapriangan.com\/wp-content\/uploads\/2016\/03\/1-300x201.jpg\" alt=\"Kampung Naga dari kejauhan. (foto: republika online)\" width=\"470\" height=\"315\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-23203\" class=\"wp-caption-text\">Kampung Naga dari kejauhan. (foto: republika online)<\/figcaption><\/figure>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">&#8216;Ada Kemungkinan yang Membakar Kampung Naga Oknum DI\/TII&#8217;<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sambil menghisap rokok dari pucuk daun kawung di teras rumah panggungnya, Aki Maun melanjutkan ceritanya. Menurut Aki Maun, yang membakar kampungnya merupakan oknum pasukan DI\/TII.<\/p>\n<p>&#8220;<em>Jiga na anu ngaduruk kampung teh oknum <\/em>TII (ada kemungkinan yang membakar kampung itu oknum TII),&#8221; kata Aki Maun.<\/p>\n<p>Dengan terbakarnya Kampung Naga, arsip dan benda-benda peninggalan <em>karuhun <\/em>(nenek moyang) ikut hangus. Tidak tersisa sedikit pun. Banyak bukti sejarah Kampung Naga yang tidak terselamatkan.<\/p>\n<p>Setelah kejadian tersebut, Aki Maun dilatih oleh tentara. Ia diajari cara berbaris (latihan militer), belajar cara menembak dan berperang. Aki Maun tergabung dalam barisan keamanan desa atau disebut pagar desa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Aki dikasih senjata jenis <em>Thompson <\/em>(senapan submesin <em>Thompson<\/em>adalah senjata era Perang Dunia II), <em>klo <\/em>ditekan pelatuknya pelurunya langsung keluar banyak,&#8221; kata Aki Maun dengan mimik serius. Keriput di wajahnya seolah ikut mengatakan jika Aki Maun telah melewati banyak kisah.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>SELANJUTNYA&#8230;<\/strong><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<figure id=\"attachment_23200\" aria-describedby=\"caption-attachment-23200\" style=\"width: 528px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\" wp-image-23200\" src=\"http:\/\/www.wartapriangan.com\/wp-content\/uploads\/2016\/03\/kampung-naga-4-300x201.jpg\" alt=\"Aki Maun (79 tahun), salah satu sesepuh di Kampung Naga. (foto: republika online)\" width=\"528\" height=\"354\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-23200\" class=\"wp-caption-text\">Aki Maun (79 tahun), salah satu sesepuh di Kampung Naga. (foto: republika online)<\/figcaption><\/figure>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Bertugas ke Berbagai Wilayah di Priangan Timur<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam kurun waktu kurang lebih satu tahun, Aki Maun dan kelompoknya telah ditugaskan ke berbagai daerah di wilayah Priangan Timur. Ia bertugas menjaga jalan-jalan utama agar tidak dilalui pasukan DI\/TII. Ia juga sering ditugaskan untuk mencegat jalur yang sering dilalui pasukan DI\/TII.<\/p>\n<p>&#8220;Alhamdulilah, selama bertugas tidak pernah mengalami baku tembak, tidak pernah <em>nembak <\/em>orang, jadi <em>gak <\/em>dosa,&#8221; kata Aki Maun sambil tertawa. Ia lalu kembali mengisap rokoknya yang terbuat dari pucuk daun kawung (aren).<\/p>\n<p>Setelah selesai bertugas menjadi keamanan desa, Aki Maun kembali ke Kampung Naga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beberapa tahun kemudian ia dijadikan <em>Punduh <\/em>(orang yang menangani bagian kemasyarakatan) di Kampung Naga. Di Kampung Naga sendiri ada tiga jabatan sesuai adat, ada pemangku adat, disebut Kuncen. Ada Lebe yang menangani bidang keagaman dan Punduh.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>SELANJUTNYA&#8230;<\/strong><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<figure id=\"attachment_23201\" aria-describedby=\"caption-attachment-23201\" style=\"width: 437px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\" wp-image-23201\" src=\"http:\/\/www.wartapriangan.com\/wp-content\/uploads\/2016\/03\/kampung-naga-3-300x201.jpg\" alt=\"Suasana Kampung Naga. (foto: republika online)\" width=\"437\" height=\"293\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-23201\" class=\"wp-caption-text\">Suasana Kampung Naga. (foto: republika online)<\/figcaption><\/figure>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Warga Kampung Naga Tetap Teguh kepada Ajaran Leluhur<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hingga kini, usia Aki Maun menginjak 79 tahun. Ia masih memegang teguh ajaran leluhur masyarakat Sunda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yakni, <em>silih asih, silih asuh, silih asah. <\/em>Selain itu, Aki Maun juga tetap menjalankan pesan para leluhur Kampung Naga. Yaitu, <em>kumaula ka<\/em>agama Islam <em>sareng darigama <\/em>(patuh dan setia pada ajaran agama Islam dan negara).<\/p>\n<p>Karena itu, Aki Maun dan warga Kampung Naga tidak ikut menjadi bagian dari pasukan DI\/TII. Tapi mereka patuh pada Negara Indonesia meski TII sampai membakar perkampungan mereka.<\/p>\n<p>&#8220;<em>Panyaur na enggal temonan <\/em>(segera penuhi panggilan dari agama dan negara), <em>parentah na enggal lakonan <\/em>(perintah agama dan negara segera laksanakan) dan <em>pamundut na enggal pasihan <\/em>(apa yang dipinta oleh agama dan negara segera berikan),&#8221; kata Aki Maun mengakhiri ceritanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Sumber: Republika Online<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>wartapriangan.com, BERITA TASIKMALAYA.\u00a0Kampung Naga di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, satu dari sekian banyak kampung adat yang masih lestari dan memegang adat tradisi nenek moyang. Mereka juga menolak intervensi dari pihak luar. Republika mencoba menelusuri dan menyibak sejarah kampung yang warganya sebut &#8216;Pareum Obor&#8217; atau matinya penerangan. Sebutan itu tidak lepas dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":20,"featured_media":23203,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[20],"tags":[19],"class_list":["post-23199","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-tasikmalaya","tag-berita-tasikmalaya"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23199","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/users\/20"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=23199"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23199\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=23199"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=23199"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=23199"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}