{"id":26614,"date":"2016-04-29T15:15:06","date_gmt":"2016-04-29T08:15:06","guid":{"rendered":"http:\/\/www.wartapriangan.com\/?p=26614"},"modified":"2016-04-29T15:15:06","modified_gmt":"2016-04-29T08:15:06","slug":"pemuluk-cilik-asal-ciamis-dan-mimpi-sepatu-baru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/2016\/04\/29\/pemuluk-cilik-asal-ciamis-dan-mimpi-sepatu-baru\/","title":{"rendered":"Pemulung Cilik Asal Ciamis dan Mimpi Sepatu Baru"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>wartapriangan.com, <a href=\"http:\/\/www.wartapriangan.com\/category\/berita-ciamis\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">BERITA CIAMIS<\/a><\/strong>.\u00a0Davin (09) seorang bocah berumur 9 tahun terpaksa menjadi pemulung. Berbekal satu buah karung berwarna putih, bocah asal Cikotok, Kertahayu, Pamarican, Kabupaten Ciamis ini, mengadu nasib mencari peruntungan diramainya Kota Banjar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berkeliling di sekitar pusat Kota Banjar menjadi sebuah rutinitas sehari-hari. Padahal dia masih tercatat sebagai pelajar di salah satu Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Pamarican. Namun alasan ingin membeli sepatu, bocah ini harus rela meluangkan waktunya menjadi pemulung usai pulang sekolah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penghasilan dari hasil memulung barang bekas ini menurutnya Rp. 29 ribu per hari. Hasilnya pun ia tabungkan untuk biaya sekolah. Davin mengaku, menjadi pemlung barang bekas ini atas seizin ibunya, Wati. \u201cPulang sekolah pukul 12.00 WIB, saya pamit ke ibu untuk pergi ke Banjar mencari uang. Dan ibu pun mengizinkan, asal jangan pulang terlalu malam,\u201d ungkapnya, Jumat (29\/04).<\/p>\n<figure id=\"attachment_26615\" aria-describedby=\"caption-attachment-26615\" style=\"width: 467px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\" wp-image-26615\" src=\"http:\/\/www.wartapriangan.com\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/pemulung-cilik-di-banjar-300x200.png\" alt=\"Davin (9) , saat mengais sampah dari tempat sampah salah satu taman di Kota Banjar. (foto: sarif hidayat\/wp)\" width=\"467\" height=\"311\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-26615\" class=\"wp-caption-text\">Davin (9), saat mengais barang bekas\u00a0dari tempat sampah salah satu taman di Kota Banjar. (foto: sarif hidayat\/wp)<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dikatakan Davin, dia sering berkeliling di Alun-alun, sampai ke Taman Kota Lapang Bhakti Kota Banjar. Dia mencari barang bekas berupa, botol kaca, plastik, bekas botol mineral atau barang bekas lainnya yang bias ia jual ke pengepul yang berada di pasar Banjar. \u201cBiasanya saya jual ke pengepul di pasar Banjar. Usai dapat uang ya langsung pulang takut dimarahi ibu kalau malam,\u201d kata dia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepada Warta Priangan, dia berharap ingin tetap bersekolah dengan baik. Dalam hatinya dia tidak mau menjadi seorang pemulung seperti ini. Karena terdesak kebutuhan sehingga dia pun terpaksa menjadi pemulung barang bekas selama kurang lebih satu bulan ini. \u201cSama ibu saya sering diberi jajan Rp. 2500, tapi itu tidak cukup. Sepatu saya rusak jadi saya ingin beli sepatu, karena malu sering dicemoohkan teman-teman di sekolah, dan saya ingin tetap sekolah,\u201d tungkas dia.<strong> (Sarif Hidayat\/WP)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>wartapriangan.com, BERITA CIAMIS.\u00a0Davin (09) seorang bocah berumur 9 tahun terpaksa menjadi pemulung. Berbekal satu buah karung berwarna putih, bocah asal Cikotok, Kertahayu, Pamarican, Kabupaten Ciamis ini, mengadu nasib mencari peruntungan diramainya Kota Banjar. Berkeliling di sekitar pusat Kota Banjar menjadi sebuah rutinitas sehari-hari. Padahal dia masih tercatat sebagai pelajar di salah satu Madrasah Ibtidaiyah (MI) [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":20,"featured_media":26615,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[23],"tags":[24,25],"class_list":["post-26614","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-ciamis","tag-berita-ciamis","tag-ciamis"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26614","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/users\/20"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26614"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26614\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26614"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26614"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26614"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}