{"id":28949,"date":"2016-06-14T05:21:29","date_gmt":"2016-06-13T22:21:29","guid":{"rendered":"http:\/\/www.wartapriangan.com\/?p=28949"},"modified":"2017-10-16T14:27:27","modified_gmt":"2017-10-16T07:27:27","slug":"kolang-kaling-bikin-pedagang-dan-warga-banjar-pusing","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/2016\/06\/14\/kolang-kaling-bikin-pedagang-dan-warga-banjar-pusing\/","title":{"rendered":"Kolang Kaling Bikin Pedagang dan Warga Pusing"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>wartapriangan.com, <a href=\"http:\/\/www.wartapriangan.com\/category\/berita-ciamis\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">BERITA CIAMIS<\/a><\/strong>.\u00a0Permintaan kolang kaling di\u00a0Ciamis dan Banjar, Jawa Barat, pada bulan puasa tahun ini menurun hingga\u00a070%\u00a0dibandingkan tahun lalu.\u00a0Hal ini disebabkan, ketersediaan buah nira di hutan sudah langka. Ini pun dikeluhkan sejumlah petani kolang kaling juga pedagang di pasar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Permintaan kolang kaling menurun drastis untuk Ramadan sekarang, atau bisa dikatakan turun hingga\u00a070% lebih,\u201d ungkap petani Desa Karangpaninggal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Herman, Senin (13\/06).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut\u00a0Herman,\u00a0biasanya pada Ramadan tahun lalu dalam sehari dirinya bisa menjual kolang kaling hingga\u00a0100 kg,\u00a0bahkan sampai\u00a01 ton. Namun saat ini setiap harinya maksimal hanya\u00a0mampu menjual 50\u00a0kg.\u00a0Herman menerangkan, ketersediaan buah nira, bakal kolang kaling di hutan sudah sangat memprihatinkan, karena banyak ditebang untuk dijadikan bahan tepung terigu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saat ini\u00a0kolang kaling,\u00a0dijual Rp. 10\u00a0ribu\/kg sampai Rp. 11 ribu\/kg\u00a0di tingkat petani. Sedangkan di pasar, dijual Rp. 12 ribu\/kg sampai Rp. 13 ribu\/kg. Hal inilah yang menjadi penyebab omzet penjualan kolang kaling menurun dari tahun sebelumnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara itu, penjual\u00a0kolang kaling\u00a0Pasar Banjar, Jawa Barat,\u00a0Umi\u00a0mengatakan,\u00a0sejak awal bulan puasa penjualan kolang kalingnya kurang diminati lantaran terbilang mahal. Biasanya pada tahun lalu omzet penjualannya mampu mencapai 50 kg perhari, namun kini, 40 kg pun belum laku terjual. Dirinya berasumsi, ini disebabkan karena langkanya buah nira sebagai bahan baku kolang kaling. Dia pun mengeluhkan terjadinya kelangkaan kolang kaling tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cDari tingkat petani sudah mahal. Saya menjual eceran pada harga Rp. 12 ribu\/kg, untuk kualitas nomor dua. Untuk nomor satu sendiri sekitar Rp. 13 ribu\/kg. Tapi warga banyak tidak membeli. Dibandingkan tahun lalu omzet kolang kaling saya mampu mencapai 50 kg per hari dan terjual habis, lah sekarang 40 kg juga sudah hampir 4 hari tidak terjual,\u201d kata dia. <strong>(Sarif Hidayat\/WP)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>wartapriangan.com, BERITA CIAMIS.\u00a0Permintaan kolang kaling di\u00a0Ciamis dan Banjar, Jawa Barat, pada bulan puasa tahun ini menurun hingga\u00a070%\u00a0dibandingkan tahun lalu.\u00a0Hal ini disebabkan, ketersediaan buah nira di hutan sudah langka. Ini pun dikeluhkan sejumlah petani kolang kaling juga pedagang di pasar. &#8220;Permintaan kolang kaling menurun drastis untuk Ramadan sekarang, atau bisa dikatakan turun hingga\u00a070% lebih,\u201d ungkap petani [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":20,"featured_media":6147,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[23],"tags":[24,25],"class_list":["post-28949","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-ciamis","tag-berita-ciamis","tag-ciamis"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28949","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/users\/20"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=28949"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28949\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=28949"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=28949"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=28949"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}