{"id":32129,"date":"2016-08-31T19:07:09","date_gmt":"2016-08-31T12:07:09","guid":{"rendered":"http:\/\/www.wartapriangan.com\/?p=32129"},"modified":"2017-10-06T12:33:33","modified_gmt":"2017-10-06T05:33:33","slug":"harga-karet-anjlok-petani-ciamis-enggan-toreh-getah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/2016\/08\/31\/harga-karet-anjlok-petani-ciamis-enggan-toreh-getah\/","title":{"rendered":"Harga Karet Anjlok, Petani Ciamis Enggan Toreh Getah"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>wartapriangan.com, <a href=\"http:\/\/www.wartapriangan.com\/category\/berita-ciamis\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">BERITA CIAMIS<\/a>.<\/strong>\u00a0Anjloknya harga karet di pasaran membuat petani karet di Dusun Cibayawak, Desa Sidamulih, dan di Dusun Sukamantri, Desa Neglasari, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, mengeluh. Saat ini petani menjual sit karet ke pedagang pengumpul\u00a0seharga Rp. 15.000,- per kg, sebelumnya harga sit karet bisa mencapai Rp. 25.000,- sampai 30.000,- per kg.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-32130 aligncenter\" src=\"http:\/\/www.wartapriangan.com\/wp-content\/uploads\/2016\/08\/petani-karet-di-ciamis-2-300x213.jpg\" alt=\"petani karet di ciamis 2\" width=\"454\" height=\"322\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Murahnya harga sit karet memicu sebagian para petani enggan\u00a0menoreh getah kare\u00adna mereka menilai tenaga dan usaha yang dikeluarkan dengan pendapatan tidak seimbang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Odih, salah seorang petani karet, Rabu (31\/08) kepada Warta Priangan, mengatakan, murahnya harga karet membuat para petani terancam rugi. Maka tak he\u00adran banyak\u00a0pemilik karet\u00a0 terpaksa meninggalkan usa\u00adha\u00adnya dengan mencari lapa\u00adngan pekerjaan baru yang mendatangkan hasil. Usaha\u00a0 mengambil karet di kebun\u00a0 salah satu pekerjaan yang sulit dan berat, pasalnya petani\u00a0 akan berhadapan dengan ba\u00adha\u00adya\u00a0dan cuaca ekstrim.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cHasil produksi karet me\u00adrupakan salah satu sumber eko\u00adnomi masyarakat, teru\u00adta\u00adma bagi petani yang me\u00admiliki la\u00adhan di daerah per\u00adbukitan. Ting\u00adginya intensitas hujan mem\u00adbuat petani ber\u00adhenti me\u00adno\u00adreh pohon\u00a0 karet di kebun, pa\u00adsalnya getah karet tidak ke\u00adluar dari batangnya. Petani ter\u00adpaksa menungggu cuaca cerah untuk menoreh,\u201d ung\u00adkap\u00adnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Odih, tanaman ka\u00adret salah satu usaha\u00a0 jangka pan\u00adjang, bahkan sebagai anda\u00adlan ekonomi sebagai besar masyarakat di daerah ini. Pengelolaan dan peme\u00adliha\u00adraannya mudah dilakukan dan dapat dija\u00addikan pe\u00adker\u00adjaan sampingan. Saat ini, tanaman karet banyak terdapat di Dusun Cibayawak, Desa Sidamulih, dan di Dusun Sukamantri, Desa Neglasari, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cPara petani karet di daerah ini berharap harga karet\u00a0naik di pasaran. Bila harga karet sudah memadai, petani akan kembali turun ke kebun me\u00adno\u00adreh getah se\u00adhing\u00adga ekono\u00admi masyarakat bangkit kem\u00adbali, setidaknya\u00a0 mampu menutupi kebutuhan ekono\u00admi keluarga,\u201d tuturnya. <strong>(Baehaki\/WP).<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>wartapriangan.com, BERITA CIAMIS.\u00a0Anjloknya harga karet di pasaran membuat petani karet di Dusun Cibayawak, Desa Sidamulih, dan di Dusun Sukamantri, Desa Neglasari, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, mengeluh. Saat ini petani menjual sit karet ke pedagang pengumpul\u00a0seharga Rp. 15.000,- per kg, sebelumnya harga sit karet bisa mencapai Rp. 25.000,- sampai 30.000,- per kg. Murahnya harga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":20,"featured_media":32131,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[23],"tags":[24,25],"class_list":["post-32129","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-ciamis","tag-berita-ciamis","tag-ciamis"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32129","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/users\/20"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=32129"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32129\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=32129"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=32129"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=32129"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}