{"id":40632,"date":"2017-01-22T21:23:27","date_gmt":"2017-01-22T14:23:27","guid":{"rendered":"http:\/\/www.wartapriangan.com\/?p=40632"},"modified":"2017-01-22T21:23:27","modified_gmt":"2017-01-22T14:23:27","slug":"potret-kemiskinan-pangandaran-keluarga-butuh-uluran-tangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/2017\/01\/22\/potret-kemiskinan-pangandaran-keluarga-butuh-uluran-tangan\/","title":{"rendered":"Potret Kemiskinan di Pangandaran, Keluarga Ini Butuh Uluran Tangan"},"content":{"rendered":"<div class=\"_1t_p clearfix\">\n<div class=\"_41ud\">\n<div class=\"clearfix _o46 _3erg _3i_m _nd_ direction_ltr text_align_ltr\">\n<div class=\"_3058 _ui9 _hh7 _s1- _52mr _3oh-\" data-tooltip-alignh=\"center\" data-tooltip-content=\"20:59\" data-hover=\"tooltip\" data-tooltip-position=\"right\">\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong><a href=\"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/\">wartapriangan.com<\/a>, <a href=\"http:\/\/www.wartapriangan.com\/category\/berita-pangandaran\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">BERITA PANGANDARAN<\/a>.<\/strong> Berdasarkan data di Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, setidaknya ada 28.000 warga Kabupaten Pangandaran yang hidup dalam kemiskinan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-40638 aligncenter\" src=\"http:\/\/www.wartapriangan.com\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/warga-miskin-di-pangandaran-1-300x169.jpg\" alt=\"warga miskin di pangandaran 1\" width=\"399\" height=\"225\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Potret kemiskinan itu dialami Euis Nurasiah (25), warga Dusun Cikulu RT.2\/RW.1 Desa Sukahurip, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Digubuk yang sederhana, dirinya tinggal bersama suami Adi Anwar (27) serta dua puterinya Zahra Nabila Puteri (5) dan seorang bayi perempuan berumur satu bulan yang belum diberi nama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-40637 aligncenter\" src=\"http:\/\/www.wartapriangan.com\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/warga-miskin-di-pangandaran-2-300x169.jpg\" alt=\"warga miskin di pangandaran 2\" width=\"382\" height=\"215\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Karena tidak memiliki uang untuk selamatan, anak saya yang bungsu belum diberi nama. Sebab seperti adat masyarakat umumnya, saat pusar si jabang bayi kering sekitar satu minggu setelah lahir, mestinya sudah dikasih nama,&#8221;ujar Euis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun dirinya belum berani memberi nama karena biasanya mesti dilakukan syukuran mengundang para tetangga. Hal ini belum dilakukannya karena tidak memiliki biaya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Jangankan untuk selamatan pemberian nama, untuk makan sehari-haripun kami keteteran mencukupinya,&#8221;kata Euis sedih.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-40636 aligncenter\" src=\"http:\/\/www.wartapriangan.com\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/warga-miskin-di-pangandaran-3-300x169.jpg\" alt=\"warga miskin di pangandaran 3\" width=\"375\" height=\"211\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Guna menopang kehidupannya sehari-hari, suaminya berjualan aromanis dan sedikit mainan anak yang dijual setiap ada acara hajatan dengan hasil tidak menentu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201dUntungnya dalam berjualan tidak seberapa. Hanya untuk bisa bertahan hidup, karena tidak setiap waktu ada pesta hajatan,\u201d terang perempuan itu haru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-40635 aligncenter\" src=\"http:\/\/www.wartapriangan.com\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/warga-miskin-di-pangandaran-4-300x169.jpg\" alt=\"warga miskin di pangandaran 4\" width=\"385\" height=\"217\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dia juga mengaku hingga kini belum pernah mendapat bantuan apa pun dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat maupun dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pangandaran.<br \/>\nDirinyapun mengaku tidak setiap bulan dapat bantuan beras untuk orang miskin (raskin).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sudah dua bulan ini saya tidak memperoleh raskin. Kalaupun dapat hanya 3 kg per bulan,&#8221; ungkap Euis kepada Warta Priangan, Minggu (22\/1) siang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-40634 aligncenter\" src=\"http:\/\/www.wartapriangan.com\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/warga-miskin-di-pangandaran-5-300x169.jpg\" alt=\"warga miskin di pangandaran 5\" width=\"376\" height=\"212\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Euis juga menegaskan tak berpikiran untuk menyalahkan siapa pun atas kehidupan keluarganya yang kurang mampu tersebut. Karena itu, meskipun kondisi suaminya tetap semangat berjualan ditempat orang yang mengadakan pesta hajatan, meski hanya sekedar untuk membeli beras dan lauk untuk makan sehari-hari daripada menjadi beban orang lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201dHarapan kami hanyalah bisa hidup layak, termasuk tinggal di tempat yang layak. Tidak selalu kebocoran saat hujan disertai angin,\u201d ungkapnya juga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pantauan Warta Priangan, tempat tinggal Euis yang berukuran 4&#215;3 meter itu kondisinya memprihatinkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-40633 aligncenter\" src=\"http:\/\/www.wartapriangan.com\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/warga-miskin-di-pangandaran-6-300x169.jpg\" alt=\"warga miskin di pangandaran 6\" width=\"367\" height=\"207\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di rumah berlantai tanah dan terbuat dari GRC yang telah pecah-pecah itu, tidak ada tempat tidur maupun kursi. Tidak ada barang berharga seperti televisi atau kipas angin di rumah yang sebagian dindingnya rusak dan ditutupi plastik bekas tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Euis juga mengaku belum pernah menerima bantuan perbaikan rumah dari pemerintah. \u201dBelum ada bantuan untuk memperbaiki rumah, mungkin karena rumah ini menumpang di tanah PT. KAI yang disewanya Rp.130 ribu per tahun,\u201d ungkapnya lagi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kini, harapan Euis dan keluarga ada yang bersedia membantu memberikan modal usaha dan bantuan untuk mengadakan selamatan anakanya agar segera punya nama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201dBantuan modal agar kami tetap bisa berjualan apa saja untuk membantu usaha suami menghidupi seluruh keluarga sehari-hari,\u201d paparnya lagi. <strong>(Iwan Mulyadi\/WP)<\/strong><\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>wartapriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Berdasarkan data di Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, setidaknya ada 28.000 warga Kabupaten Pangandaran yang hidup dalam kemiskinan. Potret kemiskinan itu dialami Euis Nurasiah (25), warga Dusun Cikulu RT.2\/RW.1 Desa Sukahurip, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran. Digubuk yang sederhana, dirinya tinggal bersama suami Adi Anwar (27) serta dua [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":20,"featured_media":40633,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[6,8],"class_list":["post-40632","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-pangandaran","tag-berita-pangandaran","tag-pangandaran"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40632","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/users\/20"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=40632"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40632\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=40632"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=40632"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=40632"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}