{"id":463,"date":"2014-12-28T10:03:15","date_gmt":"2014-12-28T03:03:15","guid":{"rendered":"http:\/\/www.wartapriangan.com\/?p=463"},"modified":"2018-02-07T11:08:51","modified_gmt":"2018-02-07T04:08:51","slug":"bertahan-di-tengah-gerusan-jaman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/2014\/12\/28\/bertahan-di-tengah-gerusan-jaman\/","title":{"rendered":"BERTAHAN DI TENGAH GERUSAN JAMAN"},"content":{"rendered":"<p><strong>wartapriangan.com, <a href=\"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/category\/berita-ciamis\/\">BERITA CIAMIS.<\/a>\u00a0<\/strong>Jangan heran jika sore hari lewat ke Desa Tigaherang, bayak ibu-ibu yang sedang menganyam tikar pandan di depan rumahnya. Ya memang, mayoritas warga di sana selain berprofesi sebagai petani mereka juga mencari tambahan penghasilan dengan membuat tikar pandan.<\/p>\n<p>Seperi Anisah (80), sudah puluhan tahun ia menjadi pengrajin tikar pandan. \u00e2\u20ac\u0153Dari mulai umur lima tahun nenek sudah belajar menganyam, malahan mungkin ini sudah merupakan warisan dari nenek moyang. Sepulang dari sawah dan kebun hampir setiap hari nenek menganyam tikar pandan\u00e2\u20ac\u009d.<\/p>\n<p>Usaha membuat tikar pandan tak hanya ditekuni oleh kaum tua saja, Ali Mubarok (29) cucu Nenenk Anisah pun sudah lama menjadi pengrajin tikar pandan.<\/p>\n<p>Namun sayang, kini tikar pandan sepi pembeli. Menurut Ali Mubarok, \u00e2\u20ac\u0153memang sekarang peminat tikar pandan mulai sedikit. Setelah saya telusri omset penjualan tikar pandan dari tahun ke tahun menurun drastis. Penyebabnya kemajuan jaman, masyarakat sudah mulai jarang menggunakan tikar pandan\u00e2\u20ac\u009d.<\/p>\n<p>Hal senada disampaikan oleh Mahdi, Ketua RT setempat. \u00e2\u20ac\u0153Harga penjualan tikar pandan sekarang murah dan sedikit pembeilnya. Dulu masih banyak pembeli dari luar desa ke sini, sekarang paling satu dua. Selain itu saat masih banyak yang beli, harga satu tikar perbandingannya dua kali lipat dari harga beras. Tapi sekarang, harganya saja tidak sesuai dengan proses pembuatannya\u00e2\u20ac\u009d.<\/p>\n<p>Masih menurut Mahdi, proses pembuatan tikar padan kalau dari mulai pengambilan bahan di kebun sampai jadi tikar paling cepat empat hari. Biaya bahannya sekitar 10 ribu rupiah harga jualnya rata-rata 15 ribu rupiah.<\/p>\n<p>\u00e2\u20ac\u0153Membuat tikar pandan sudah menjadi bagian masyarakat di sini. Maka ke depan, rencananya saya akan membuat kelompok\u00c2\u00a0 pengrajin tikar pandan agar pengelolaan dan pendapatannya bisa lebih optimal. Saya akan melibatkan LPM dan BUMDes dalam pelaksanannya, dan rencananya akan dibuat berbagai jenis kerajinan lain dari bahan pandan selain tikar,\u00e2\u20ac\u009d jelas Ali Mubarok, yang juga merupakan pengurus LPM Tigaherang ini.<\/p>\n<p><em>(Senny Apriani seperti dilaporkan Dede Hermawan)<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>wartapriangan.com, BERITA CIAMIS.\u00a0Jangan heran jika sore hari lewat ke Desa Tigaherang, bayak ibu-ibu yang sedang menganyam tikar pandan di depan rumahnya. Ya memang, mayoritas warga di sana selain berprofesi sebagai petani mereka juga mencari tambahan penghasilan dengan membuat tikar pandan. Seperi Anisah (80), sudah puluhan tahun ia menjadi pengrajin tikar pandan. \u00e2\u20ac\u0153Dari mulai umur lima [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":19,"featured_media":466,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[23],"tags":[24,25],"class_list":["post-463","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-ciamis","tag-berita-ciamis","tag-ciamis"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/463","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/users\/19"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=463"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/463\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=463"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=463"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=463"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}