{"id":63155,"date":"2017-10-31T16:11:56","date_gmt":"2017-10-31T09:11:56","guid":{"rendered":"https:\/\/wartapriangan.com\/?p=63155"},"modified":"2017-10-31T20:19:14","modified_gmt":"2017-10-31T13:19:14","slug":"31-oktober-91-tahun-yang-lalu-dunia-dikejutkan-tewasnya-tokoh-ini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/2017\/10\/31\/31-oktober-91-tahun-yang-lalu-dunia-dikejutkan-tewasnya-tokoh-ini\/","title":{"rendered":"Hari Ini 91 Tahun yang Lalu, Dunia Dikejutkan dengan Tewasnya Orang Ini"},"content":{"rendered":"<p><strong>wartapriangan.com, <a href=\"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/category\/berita-internasional\/\">BERITA INTERNASIONAL<\/a><\/strong>. Atraksi menegangkan semisal meloloskan diri dari borgol seperti yang kerap dilakukan Demian atau Deddy Corbuzier, sebenarnya sudah dipopulerkan ratusan tahun yang lalu. Adalah Harry Houdini\u00a0orang pertama yang menciptakan trik sulap seperti yang dilakukan dua pesulap terkenal indonesia tersebut.<\/p>\n<p>Kemahiran Houdini dalam aksi melepaskan diri dari borgol, membuat\u00a0 laki-laki berdarah Yahudi ini mempunyai julukan The Handcuff King alias Raja Borgol.<\/p>\n<p>Seiring berjalanya waktu, Aksi dan trik sulap Houdini semakin berkembang dan makin mengibarkan namanya di kancah sulap dunia. Namun dari sekian banyak trik sulap yang diciptakan Houdini, trik sulap meloloskan diri dari borgol yang sangat terkenal dan banyak ditiru oleh generasi pesulap selanjutnya.<\/p>\n<p>Karena sudah makin banyak yang menggunakan aksi melepaskan diri dari borgol, Houdini mencoba merancang aksi-aksi lain.<\/p>\n<p>\u201cPada 25 Januari 1908, Houdini mengunci dirinya di dalam kaleng susu berisi air, dan berhasil lolos. Penonton pun senang dibuatnya,\u201d tulis J.D. Rockefeller.<\/p>\n<p>Selain di kaleng susu, dia juga melakukannya di dalam tong pemanas yang dipaku besi. Dia juga mulai mengundang penonton untuk ikut meramaikan pertunjukan.<\/p>\n<p>Pada 1926, Houdini yang mulai menua masih berjaya meski usianya sudah 52 tahun. Di akhir hidupnya, Houdini bahkan menjadi dosen tamu Universitas McGill di Montreal, Kanada.<\/p>\n<p>Houdini sempat berkumpul dengan beberapa mahasiswa. Salah satu mahasiswa, Jocelyn Gordon Whitehead pernah mendengar Houdini\u00a0sesumbar bisa menahan pukulan di perut dengan teknik mengencangkan otot perut.<\/p>\n<p>Whithead menantang Houdini\u00a0membuktikan omongannya. Meski sudah tua dan lelah, Houdini\u00a0mengizinkan\u00a0Gordon meninju perutnya.<\/p>\n<p>\u201cSebelum pesulap itu bangkit dari sofa dan mengencangkan otot-ototnya, Whitehead mulai dengan serangkaian pukulan cepat. Houdini terjatuh kembali ke sofa,\u201d tulis Jim Steinmeyer.<\/p>\n<p>Dengan menahan sakit, Houdini\u00a0pergi ke Detroit\u00a0untuk menggelar pertunjukan di kota terbesar di Michigan. Sampai Detroit, Houdini harus dibawa ke rumah sakit karena rasa sakit yang tak tertahankan di perutnya.<\/p>\n<p>Menurut diagnosa dokter, Houdini mengalami radang usus buntu yang sudah akut, dan disarankan segera dibedah untuk mengatasi usus buntunya.\u00a0Akan tetapi Houdini mengabaikan saran dokter itu. Dia lebih mementingkan pertunjukannya.<\/p>\n<p>Ketika tampil di Garrick Theatre Detroit, Michigan, pada 24 Oktober 1926, demamnya 40 derajat celcius. Houdini sempat pingsan dan lagi-lagi harus dirawat kembali di rumah sakit.<\/p>\n<p>Tepat di ujung Oktober, pada 31 Oktober 1926, Houdini\u00a0menghembuskan nafasnya yang terakhir.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>(<\/strong><strong>WP\/Berbagai Sumber)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>wartapriangan.com, BERITA INTERNASIONAL. Atraksi menegangkan semisal meloloskan diri dari borgol seperti yang kerap dilakukan Demian atau Deddy Corbuzier, sebenarnya sudah dipopulerkan ratusan tahun yang lalu. Adalah Harry Houdini\u00a0orang pertama yang menciptakan trik sulap seperti yang dilakukan dua pesulap terkenal indonesia tersebut. Kemahiran Houdini dalam aksi melepaskan diri dari borgol, membuat\u00a0 laki-laki berdarah Yahudi ini mempunyai [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":22,"featured_media":63156,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[249],"tags":[250],"class_list":["post-63155","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-internasional","tag-berita-internasional"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63155","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/users\/22"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=63155"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63155\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/media\/63156"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=63155"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=63155"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=63155"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}