{"id":67723,"date":"2017-11-29T07:30:37","date_gmt":"2017-11-29T00:30:37","guid":{"rendered":"https:\/\/wartapriangan.com\/?p=67723"},"modified":"2017-11-29T10:26:16","modified_gmt":"2017-11-29T03:26:16","slug":"badai-cempaka-mendekat-ke-priangan-timur-waspada","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/2017\/11\/29\/badai-cempaka-mendekat-ke-priangan-timur-waspada\/","title":{"rendered":"Badai Cempaka Mendekat ke Priangan Timur, Waspada!"},"content":{"rendered":"<p><strong>wartapriangan.com, <a href=\"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/category\/kabar-jabar\/\">BERITA JAWA BARAT<\/a><\/strong>. Masyarakat Indonesia diimbau untuk tetap waspada menghadapi cuaca ekstrem. BMKG menyatakan, cuaca ekstrem ini berpotensi menimbulkan dampak lebih dari biasanya, seperti angin kencang hingga puting beliung.<\/p>\n<p>Pusat Peringatan Dini Siklon Tropis BMKG pada Senin (27\/11\/2017) pukul 19.00 WIB mendeteksi siklon tropis bernama \u201cCempaka\u201d telah tumbuh di perairan yang sangat dekat dengan pesisir selatan Pulau Jawa, yang memicu cuaca ekstrem. Kemunculan siklon tropis di wilayah perairan sebelah selatan Jawa Tengah itu, menurut analisis BMKG, berpotensi besar memicu hujan lebat di Wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.<\/p>\n<p>Daerah yang terparah diterjang dampak Badai Cempaka adalah Pacitan. Banjir akibat badai di Pacitan ini menyebabkan 11 orang meninggal dunia. Korban meninggal dunia terdiri dari 9 orang akibat tertimbun tanah longsor dan 2 orang hanyut terbawa banjir.<\/p>\n<p>BMKG juga memperingatkan jika terjangan badai mendekat ke wilayah Jawa Barat. Badai Cempaka sudah masuk ke wilayah Cilacap, daerah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah.<\/p>\n<p>Badai siklon tropis Cempaka di perairan selatan Jawa membuat ribuan nelayan tangkap di Cilacap, Jawa Tengah tidak melaut. Cuaca ekstrem ini membahayakan bagi para nelayan.<\/p>\n<p>BMKG juga sudah memperingatkan masyarakat Jawa Barat termasuk Priangan Timur untuk waspada.<\/p>\n<p>&#8220;Siklon Cempaka berpengaruh terhadap kondisi cuaca di Jabar. Dampak yang ditimbulkan adanya siklon tropis Cempaka berupa potensi hujan lebat dan angin kencang,&#8221; ujar prakirawan BMKG Bandung Neneng Sugianti, Selasa (28\/11\/2017) seperti dikutip Antara.<\/p>\n<p>Masyarakat diimbau agar waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin.<\/p>\n<h3><a href=\"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/2017\/11\/29\/badai-cempaka-mendekat-ke-priangan-timur-waspada\/2\/\">Ini Karakter Badai Cempaka (Halaman 2)<\/a><\/h3>\n<p><!--nextpage--><br \/>\nLalu apakah Badai Cempaka tersebut?<\/p>\n<p>Dilansir dari Kompas, Terbentuknya bibit siklon tropis Cempaka pertama kali dilaporkan oleh Pusat Peringatan Dini Siklon Tropis BMKG pada Senin (27\/11) kemarin. Siklon ini terbentuk di perairan pesisir selatan Jawa Tengah pada koordinat 8,6 Lintang Selatan dan 110,8 Bujur Timur, atau sekitar 100 kilometer selatan tenggara Cilacap. Kemunculan siklon tropis Cempaka menyebabkan perubahan pola cuaca di sekitar lintasannya. Potensi hujan lebat ini diperkirakan terjadi di wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DKI Yogyakarta, dan Jawa Timur.<\/p>\n<p>Siklon tropis punya sebutan yang berbeda-beda tergantung dimana lokasi terjadinya. Kalau di Samudera Pasifik, sebutannya \u201ctopan\u201d. Di India dan Australia disebut \u201ccyclone\u201d atau \u201csiklon\u201d. Sedangkan kalau terjadi di Samudera Atlantik disebut\u00a0 \u201churricane\u201d. Dikutip dari laman BMKG, untuk siklon tropis sendiri, seperti namanya, terbentuk di perairan di sekitar daerah tropis yang memiliki permukaan air laut hangat, lebih dari 26,5 derajat celsius. Radius rata-rata siklon tropis mencapai 150 hingga 200 km.\u00a0 Angin kencang di sekitaran pusatnya memiliki kecepatan angin mencapai lebih dari 63 km\/jam.<\/p>\n<p>Siklon tropis punya masa hidup sendiri. Rata-rata berkisar antara 3-18 hari. Oleh karena siklon tropis mendapat pasokan energi dari lautan hangat, maka jika ia masuk wilayah perairan dingin atau daratan, kekuatannya akan melemah bahkan punah.<\/p>\n<p>Jika dibandingkan dengan siklon-siklon tropis lainnya, siklon tropis yang terjadi kali ini menurut BMKG termasuk fenomena langka karena posisinya paling dekat dengan daratan dan terpantau jelas oleh BMKG. Sejak 2008, terpantau sudah 4 kali siklon sropis terjadi di Indonesia. Pertama siklon tropis Durga di perairan barat daya Bengkulu pada 22-25 April 2008. Kedua, siklon tropis Anggrek di perairan barat Sumatera pada 30 Oktober-4 November 2010. Ketiga, siklon tropis Bakung di perairan barat daya Sumatera pada 11-13 Desember 2014. Dan keempat, siklon tropis Cempaka yang terjadi saat ini.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>wartapriangan.com, BERITA JAWA BARAT. Masyarakat Indonesia diimbau untuk tetap waspada menghadapi cuaca ekstrem. BMKG menyatakan, cuaca ekstrem ini berpotensi menimbulkan dampak lebih dari biasanya, seperti angin kencang hingga puting beliung. Pusat Peringatan Dini Siklon Tropis BMKG pada Senin (27\/11\/2017) pukul 19.00 WIB mendeteksi siklon tropis bernama \u201cCempaka\u201d telah tumbuh di perairan yang sangat dekat dengan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":20,"featured_media":67724,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[33],"tags":[7280,32],"class_list":["post-67723","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kabar-jabar","tag-badai-cempaka","tag-berita-jawa-barat"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/67723","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/users\/20"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=67723"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/67723\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/media\/67724"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=67723"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=67723"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=67723"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}