{"id":68363,"date":"2017-12-06T09:07:14","date_gmt":"2017-12-06T02:07:14","guid":{"rendered":"https:\/\/wartapriangan.com\/?p=68363"},"modified":"2017-12-06T09:07:14","modified_gmt":"2017-12-06T02:07:14","slug":"kepala-bnn-biadab-hidup-dari-ngeracun-anak-anak-keluarganya-hidup-mewah-di-tasikmalaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/2017\/12\/06\/kepala-bnn-biadab-hidup-dari-ngeracun-anak-anak-keluarganya-hidup-mewah-di-tasikmalaya\/","title":{"rendered":"Kepala BNN: \u201cBiadab, Hidup dari Ngeracun Anak-Anak. Keluarganya Hidup Mewah di Tasikmalaya!\u201d"},"content":{"rendered":"<p><strong>wartapriangan.com, <a href=\"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/category\/berita-tasikmalaya\/\">BERITA TASIKMALAYA<\/a><\/strong>. Beberapa waktu lalu warga digegerkan dengan peredaran pil PCC yang juga dikenal dengan pil zombie. Disebut pil zombie karena jika meminum pil tersebut, kelakukan peminumnya mirip zombie. Ia akan melakukan gerakan-gerakan aneh tanpa bisa dikontrol. Lebih parah, pil tersebut juga dapat membuat yang mengonsumsinya meninggal dunia.<\/p>\n<p>Seperti kejadian di Kendari, puluhan warga masuk rumah sakit gara-gara meminum pil tersebut. Mirisnya, beberapa korban di antaranya masih anak-anak. Dan tiga korban di antaranya akhirnya meregang nyawa.<\/p>\n<p>Pasca kejadian tersebut, aparat memburu pengedar dan pembuat pil PCC mematikan itu. Usaha petuas kepolisian dan BNN pun membuahkan hasil, mereka berhasil meringkus sindikat produsen pil PCC di Semarang, Jawa Tengah. Dan otak dari sindikat tersebut ternyata diketahui merupakan warga Tasikmalaya.<\/p>\n<p>Penangkanpan para pelaku pembuat pil PPC ini sempat membuat Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Pol Budi Waseso terlihat geram. Kemarahan tertuju pada pelaku Djoni dan Sri Anggono alias Ronggo. Dan Ronggo ini diketahui merupakan warga Tasikmalaya.<\/p>\n<h3>Hidup dari ngeracun anak-anak. Begini kehidupan mewah keluarga pelaku di Tasikmalaya\u201d (Halaman 2)<\/h3>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p>Selasa petang\u00a0 (05\/12\/2017), aparat melakukan penggerebekan terhadap rumah pelaku Ronggo. Dan hasilnya, petugas berhasil mengamankan 5.535 butir pil PCC produk zenit dan printan rekening koran\u00a0hingga milyaran rupiah.<\/p>\n<p>Menurut penuturan petugas, rumah keluarga tersangka di daerah Tasikmalaya terbilang mewah. Rumah tersebut masih didiami oleh istri, anak dan pembantunya.<\/p>\n<p>Saat digerebek, di kamar tersangka petugas mencurigai dengan ditemukan satu butir obat PCC produksi zenit yang\u00a0kini telah dilarang beredar.\u00a0 Dari petunjuk tersebut akhirnya petugas menemukan satu kantong plastik\u00a0yang disimpan dalam sebuah dus. Dan setelah diperiksa, pil tersebut adalah pil PCC\u00a0berjumlah 5.535 butir, petugas pun langsung mengamankannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Awalnya pihak keluarga menolak bahwa pil tersebut pil PCC tapim, melainkan obat kuat. Namun setelah diperiksa obat tersebut jelas merupakan obat PCC, sehingga keluarga pelaku tidak bisa mengelak lagi. Obat tersebut diduga merupakan produk rumahan.<\/p>\n<p>Rumah mewah milik keluarga tersangka otak pembuat pil PPC itu berlokasi di Kampung Balanajer, Desa Pager Ageung, Kecamatan Pager Ageung, Kabupaten Tasikmalaya.<\/p>\n<p>&#8220;Biadab mereka. Hidup dari ngeracun anak-anak. Satu itu hidup enak di Tasikmalaya, kerja santai tinggal terima setoran dari ngerusak anak-anak,&#8221; Komjen Pol Budi Waseso dengan geram<strong>. (WP\/Andri Ahmad Fauzi\/Berbagai Sumber)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>wartapriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Beberapa waktu lalu warga digegerkan dengan peredaran pil PCC yang juga dikenal dengan pil zombie. Disebut pil zombie karena jika meminum pil tersebut, kelakukan peminumnya mirip zombie. Ia akan melakukan gerakan-gerakan aneh tanpa bisa dikontrol. Lebih parah, pil tersebut juga dapat membuat yang mengonsumsinya meninggal dunia. Seperti kejadian di Kendari, puluhan warga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":20,"featured_media":68367,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[20],"tags":[19,6786],"class_list":["post-68363","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-tasikmalaya","tag-berita-tasikmalaya","tag-tasikmalaya"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/68363","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/users\/20"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=68363"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/68363\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/media\/68367"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=68363"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=68363"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=68363"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}