{"id":82098,"date":"2018-09-14T19:26:56","date_gmt":"2018-09-14T12:26:56","guid":{"rendered":"https:\/\/wartapriangan.com\/?p=82098"},"modified":"2018-09-14T19:28:33","modified_gmt":"2018-09-14T12:28:33","slug":"pelestarian-budaya-dan-tradisi-pembacaan-sejarah-kacijulangan-kembali-digelar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/2018\/09\/14\/pelestarian-budaya-dan-tradisi-pembacaan-sejarah-kacijulangan-kembali-digelar\/","title":{"rendered":"Pelestarian Budaya dan Tradisi, Pembacaan Sejarah Kacijulangan Kembali Digelar"},"content":{"rendered":"<p><strong>wartapriangan.com, BERITA PANGANDARAN.<\/strong> Sejumlah budayawan dan para kasepuhan di Kabupaten Pangandaran menggelar tradisi kuno, pembacaan Sejarah &#8220;Kacijulangan&#8221; di Balai Dusun Binangun, Desa Kondangjajar, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jumat (14\/9\/2018).<\/p>\n<p>Dalam kesempatan itu hadir para sesepuh, budayawan dan para tokoh adat, dari berbagai wilayah serta masyarakat setempat. Diantara utusan yang hadir antara lain dari Sukapura Galunggung dan Keraton Yogyakarta dan solo.<\/p>\n<p>Juru baca sejarah kacijulangan Aki Ajim (74), mengungkapkan, tradisi tersebut merupakan tradisi lama yang saat ini hampir punah.<\/p>\n<p>Berkat dorongan para budayawan muda dan pelaku adat dia kembali didaulat untuk menjadi juru baca sejarah tersebut.<\/p>\n<p>\u201cPembacaan sejarah kacijulangan mempunyai ketentuan tersendiri, di antaranya harus berdasarkan perhitungan Sunda kuno dan hanya boleh dibacakan pada bulan Muharam,\u201d ungkap Aki Ajim.<\/p>\n<p>Sejarah Kacijulangan tersebut merupakan sejarah purwaningjagat atau sejarah penciptaan alam semesta dan ajaran ketauhidan juga perilaku manusia untuk mengenal para pendahulu, supaya manusia bisa mengenal dirinya dan penciptanya.<\/p>\n<p>\u201cDalam sejarah ini ada dua bab terpenting, di antaranya sejarah gede dan sejarah leutik,\u201d tambah Aki Ajim.<\/p>\n<p>Sejarah gede yang menerangkan proses terciptanya alam dan sejarah leutik menerangkan proses kehidupan manusia.<\/p>\n<p>Namun untuk melaksanakan pembacaan sejarah Kacijulangan harus dilakukan oleh orang yang dinilai sudah memiliki keimanan dan ketauhidan yang sempurna karena dikhawatirkan terjadi perbedaan penafsiran.<\/p>\n<p>\u201cDalam rangkaian isi sejarah kacijulangan dipaparkan ajaran tauhid, di sinilah banyak orang yang salah tafsir memaknai paparan tauhid tersebut. Sehingga tradisi pembacaan Sejarah Kacijulangan pernah mendapat pertentangan dari beberapa kalangan kyai,\u201d paparnya.<\/p>\n<p>Salah satu budayawan Pangandaran Erik Krisnayudha Astrawijaya Saputra mengatakan, tradisi pembacaan sejarah kacijulangan atau Sejarah Purwaningjagat ini harus terus dilestarikan.<\/p>\n<p>\u201cKalau Kabupaten Ciamis memiliki tradisi nyangku di Panjalu, maka Kabupaten Pangandaran pun memiliki tradisi pembacaan Sejarah Kacijulangan,\u201d kata Erik.<\/p>\n<p>Erik berharap, tradisi kuno tersebut bisa dipertahankan dan jangan sampai punah lantaran salah satu aset tradisi jatidiri warga Pangandaran.<\/p>\n<p>\u201cAlhamdulillah, tahun ini kami bisa menyelenggarakan tradisi kuno pembacaan Sejarah Kacijulangan karena masih ada juru bacanya yaitu Aki Ajim,&#8221; tambahnya.<\/p>\n<p>Erik pun menegaskan saat ini sedang dipersiapkan regenerasi agar tradisi ini dapat terus dilaksanakan. (Iwan Mulyadi\/WP)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>wartapriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Sejumlah budayawan dan para kasepuhan di Kabupaten Pangandaran menggelar tradisi kuno, pembacaan Sejarah &#8220;Kacijulangan&#8221; di Balai Dusun Binangun, Desa Kondangjajar, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jumat (14\/9\/2018). Dalam kesempatan itu hadir para sesepuh, budayawan dan para tokoh adat, dari berbagai wilayah serta masyarakat setempat. Diantara utusan yang hadir antara lain dari Sukapura Galunggung [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":21,"featured_media":82099,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[6,9842,9841],"class_list":["post-82098","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-pangandaran","tag-berita-pangandaran","tag-cijulang","tag-sejarah-kacijulangan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82098","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/users\/21"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=82098"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82098\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/media\/82099"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=82098"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=82098"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=82098"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}