{"id":84043,"date":"2019-01-04T17:32:53","date_gmt":"2019-01-04T10:32:53","guid":{"rendered":"https:\/\/wartapriangan.com\/?p=84043"},"modified":"2019-01-04T17:32:53","modified_gmt":"2019-01-04T10:32:53","slug":"festival-coffee-rajadesa-art-and-culture","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/2019\/01\/04\/festival-coffee-rajadesa-art-and-culture\/","title":{"rendered":"FESTIVAL COFFEE RAJADESA ART AND CULTURE"},"content":{"rendered":"<p><strong>wartapriangan.com, <a href=\"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/category\/opini\/\">OPINI.<\/a><\/strong>\u00a0Memulai hari dengan kopi sudah menjadi kebiasaan banyak orang. Ada juga yang mengaku tidak bisa konsentrasi jika belum minum secangkir kopi. Pecinta kopi sangat memasyarakat, mulai dari kalangan bawah, menengah hingga atas. Mulai dari harga ribuan sampai Jutaan Rupiah. Itu semua demi sebuah kenikmatan meneguk secangkir kopi.<\/p>\n<p>Tak heran jika beberapa daerah di Jawa Barat bermunculan komoditas kopi unggulan. Salah satunya adalah di Kecamatan Rajadesa, Kabupaten Ciamis. Festival <em>Coffee<\/em> Rajadesa <em>Art And Culture<\/em> digelar setiap tahunnya dan terakhir \u00a0pada 8 Desember 2018. Festival ini bertempat di Desa Purwaraja, Kecamatan Rajadesa. Selain menyajikan berbagai sajian kopi asli Rajadesa, ditampilkan juga beberapa kesenian dan kebudayaan lokal. Hal ini untuk menambah semarak acara, seperti helaran Mabokuy (Manusia Boboko Dukuy) dan Seni Lontang (Ronggeng Buhun asli Desa Purwaraja).<\/p>\n<p>Kenapa kopi Rajadesa yang diangkat dalam festival tersebut? Karena kopi Rajadesa belum banyak dikenal khalayak. Padahal aroma dan rasa kopi Rajadesa tidak kalah nikmat\u00a0 dengan kopi di daerah lainnya.Demikian juga dengan produksi kopinya yang cukup melimpah. Dengan Festival kopi Rajadesa disamping sebagai ajang promosi, diharapkan juga menambah ragam aneka kopi asli Jawa Barat.<\/p>\n<h3><a href=\"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/2019\/01\/04\/festival-coffee-rajadesa-art-and-culture\/2\/\"><strong>Data Sensus Pertanian BPS Ciamis tahun 2013<\/strong><\/a><\/h3>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h3><strong>Data Sensus Pertanian BPS Ciamis tahun 2013<\/strong><\/h3>\n<p>Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Ciamis, berdasarkan hasil Sensus Pertanian tahun 2013, \u00a0jumlah rumah tangga usaha perkebunan kopi di Kabupaten Ciamis mencapai 18.616 rumah tangga. \u00a0Sebagian besar yaitu sebanyak 4.248 rumah tangga berada di Kecamatan Rajadesa. Persebarannya terdapat di semua kecamatan dan paling sedikit di Kecamatan Ciamis. Dari Hasil Sensus Pertanian 2013 juga, diketahui bahwa jumlah pohon kopi yang diusahakan\/dikelola di Kabupaten Ciamis sebanyak 9.738.245 pohon, \u00a0terbanyak berada di Kecamatan Rajadesa yaitu \u00a06.071.794 pohon. Adapun\u00a0 jumlah pohon kopi yang paling sedikit \u00a0berada diKecamatan Lakbok yaitu hanya sebanyak 533 pohon.<\/p>\n<p>Tak hanya kopi, seni\u00a0 Mabokuy dari Rajadesa diharapkan \u00a0menambah ragam budaya di Jawa Barat. Mabokuy adalah Manusia Boboko Dudukuy. Mobukoy terkait dengan kerajinan anyaman di Kecamatan Rajadesa. Kecamatan ini menjadi salah satu \u00a0sentra industri anyaman bambu di Kabupaten Ciamis. Hampir setiap desa di Rajadesa memiliki pengrajin anyaman bambu. Adapun beberapa produk \u00a0unggulannya \u00a0berupa <em>ayakan\/sair<\/em>, <em>boboko<\/em>, <em>dudukuy<\/em>, <em>nyiru<\/em> dan juga anyaman tikar dari pandan. Khusus Mabokuy ini karena helaran di adakan di Purwaraja, sedangkan Desa Purwaraja sebagai penghasil <em>boboko<\/em> dan <em>d<\/em><em>udukuy<\/em>. Mobukoy merupakan sebuah karya seni dari potensi industri anyaman yang digagas oleh Paguyuban Seni Sunda Tunas Muda Purwaraja.<\/p>\n<p>Bedasarkan data BPS, pada tahun 2018, jumlah industri anyaman di Kecamatan Rajadesa sebanyak 3.085 industri. Adapun Desa dengan industri anyaman terbanyak berada di Desa Tanjungsari, yaitu sebanyak 938 Industri. Sedangkan yang terendah berada ada di Desa Andapraja, tidak terdapat industri anyaman.<\/p>\n<p>Disamping itu, biasanya ditampilkan juga Seni Lontang. Lontang merupakan Ronggeng Buhun asli Kecamatan Rajadesa. Ciri khas Lontang adalah penarinya laki &#8211; laki. Dengan demikian Lontang\/Ronggeng Buhun merupakan kesenian asli Rajadesa, berbeda dengan ronggeng &#8211; \u00a0ronggeng yang ada di daerah lain.<\/p>\n<p>Misalnya Ronggeng Tayub, menurut ahli kebudayaan, Bapak Eman Hermansyah, S.Pd, Kasi Pembinaan Kesenian Disbudpora Kabupaten Ciamis, Ronggeng Tayub ini tersebar dibeberapa Kecamatan di Ciamis Utara. Persebarannya \u00a0yaitu di \u00a0Kecamatan Tambaksari, Rancah, Sukadana, Panawangan dan Panumbangan. Adapun di Kecamatan Panumbangan, Ronggeng \u00a0dikenal dengan sebutan Bongbang.<\/p>\n<p>Perpaduan festival kopi dan seni budaya lokal ini diharapkan mampu mendongkrak wisata di Kabupaten Ciamis. Dengan ditampilkannya seni Mobukoy dan Lontang juga sebagai pelestarian budaya asli daerah di tengah gempuran seni dari luar. Khususnya menyasar kaum milenial untuk lebih menyukai budaya asli daerah. Inilah tugas kita bersama dalam memajukan budaya asli daerah.<\/p>\n<h3><a href=\"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/2019\/01\/04\/festival-coffee-rajadesa-art-and-culture\/3\/\">Amanat UU tentang\u00a0Pemajuan Kebudayaan<\/a><br \/>\n<!--nextpage--><\/h3>\n<h3>Amanat UU tentang\u00a0Pemajuan Kebudayaan<\/h3>\n<p>Hal ini sebagaimana diamanatkan Undang \u2013 Undang Republik Indonesia No. 5 Tahun 2017, tentang Pemajuan Kebudayaan. \u00a0Dalam Pasal 1 menyebutkan bahwa ;<\/p>\n<ul>\n<li>Pemajuan Kebudayaan adalah upaya meningkatkan ketahanan budaya dan kontribusi budaya Indonesia di tengah peradaban dunia melalui pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan k<\/li>\n<li>Pelindungan adalah upaya menjaga keberlanjutan kebudayaan yang dilakukan dengan cara inventarisasi, pengamanan, pemeliharaan, penyelamatan, dan publikasi.<\/li>\n<li>Pengembangan adalah upaya menghidupkan ekosistem kebudayaan serta meningkatkan, memperkaya, dan menyebarluaskan k<\/li>\n<li>Pemanfaatan adalah upaya pendayagunaan objek pemajuan kebudayaan untuk menguatkan ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan dalam mewujudkan tujuan nasional.<\/li>\n<li>Pembinaan adalah upaya pemberdayaan Sumber Daya Manusia kebudayaan, lembaga Kebudayaan, dan pranata kebudayaan dalam meningkatkan dan memperluas peran aktif dan inisiatif masyarakat.<\/li>\n<li>Objek pemajuan kebudayaan adalah unsur kebudayaan yang menjadi sasaran utama pemajuan k<\/li>\n<\/ul>\n<p>Oleh sebab itu, festival ini menjadi salah satu upaya mengangkat potensi kebudayaan dan keunikan yang dimiliki Kecamatan Rajadesa, Kabupaten Ciamis. Banyak prosesi yang \u00a0biasanya ditampikan dalam gelaran tersebut. Prosesi seni ritual memetik kopi secara simbolik, kemudian prosesi menanam kopi bekerja sama dengan BPP Kecamatan Rajadesa.<\/p>\n<p>Selain itu, terdapat juga prosesi ritual menumbuk kopi secara tradisional bersama masyarakat. Demikian juga dilakukan \u00a0demo membuat kopi gaya milenial bekerja sama dengan pecinta kopi Kabupaten Ciamis. Dan tentunya terdapat acara ritual minum kopi.<\/p>\n<p>Ritual minum kopi dilaksanakan pada malam hari disajikan dengan iringan kecapi suling. Terdapat banyak cangkir kopi yang disajikan untuk dinikmati bersama. Setelah ritual tersebut, pada malam harinya juga di tampilkan beberapa kesenian tradisional dari berbagai Desa, di Kecamatan Rajadesa.<\/p>\n<p>Harapannya dari momen ini, mendapatkan manfaat besar dari potensi wilayah dengan dukungan semua pihak. Potensi pengembangan kopi asli daerah, potensi yang terkait dengan percepatan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Ciamis. Potensi yang memberikan kekuatan terhadap budaya lokal.<\/p>\n<p>Sebuah perpaduan harapan dari acara Festival <em>Coffe Rajadesa Art dan Culture<\/em>. Oleh sebab itu acara ini harus terus digulirkan dan lebih ditingkatkan lagi cakupannya. Manfaat dan daya dongkraknya mampu berdampak positif terhadap percepatan perekonomian di Rajadesa khususnya, umumnya di Kabupaten Ciamis.<\/p>\n<figure id=\"attachment_84045\" aria-describedby=\"caption-attachment-84045\" style=\"width: 225px\" class=\"wp-caption alignleft\"><img decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-84045\" src=\"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2019\/01\/WhatsApp-Image-2018-11-28-at-10.07.04-225x300.jpeg\" alt=\"\" width=\"225\" height=\"300\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-84045\" class=\"wp-caption-text\">Ai Sri Romdoniah, A. Md, Penulis adalah Fungsional Statistisi Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Ciamis.<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>*) Ai Sri Romdoniah, A. Md<\/strong><\/p>\n<p><em><strong>(Penulis adalah Fungsional Statistisi Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Ciamis)<\/strong><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>wartapriangan.com, OPINI.\u00a0Memulai hari dengan kopi sudah menjadi kebiasaan banyak orang. Ada juga yang mengaku tidak bisa konsentrasi jika belum minum secangkir kopi. Pecinta kopi sangat memasyarakat, mulai dari kalangan bawah, menengah hingga atas. Mulai dari harga ribuan sampai Jutaan Rupiah. Itu semua demi sebuah kenikmatan meneguk secangkir kopi. Tak heran jika beberapa daerah di Jawa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":24,"featured_media":84046,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[549],"tags":[],"class_list":["post-84043","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84043","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/users\/24"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=84043"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84043\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":84047,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84043\/revisions\/84047"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/media\/84046"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=84043"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=84043"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=84043"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}