{"id":84051,"date":"2019-01-04T18:18:03","date_gmt":"2019-01-04T11:18:03","guid":{"rendered":"https:\/\/wartapriangan.com\/?p=84051"},"modified":"2019-01-04T18:53:01","modified_gmt":"2019-01-04T11:53:01","slug":"pertanian-masih-penyumbang-terbesar-pdrb-ciamis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/2019\/01\/04\/pertanian-masih-penyumbang-terbesar-pdrb-ciamis\/","title":{"rendered":"Pertanian Masih Penyumbang Terbesar PDRB Ciamis"},"content":{"rendered":"<p><strong>wartapriangan.com, <a href=\"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/category\/opini\/\">OPINI.<\/a><\/strong>\u00a0Pertanian sampai saat ini masih memiliki peran penting dalam rangkaian pembangunan kehidupan manusia. Bertani memang tidak terlepas dari kehidupan sehari &#8211; hari khususnya untuk beberapa wilayah yang memiliki potensi. Kebutuhan pangan hanya dapat terpenuhi dari sektor pertanian.<\/p>\n<p>Pertanian masih sebagai motor penggerak roda perekonomian di sebagian besar Kabupaten. Semaju apa pun suatu wilayah, tetap akan memiliki ketergantungan terhadap pertanian. Begitupun halnya dengan Ciamis, salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Barat, yang sebagian besarnya adalah masyarakat tani.<\/p>\n<p>Kabupaten Ciamis memiliki potensi di sektor pertanian yang sangat besar. Selama lima tahun terakhir (2013 &#8211; 2017), data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan struktur perekonomian Kabupaten Ciamis didominasi oleh 5 (lima) kategori lapangan usaha, yaitu: Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan; Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil, dan Sepeda Motor; Transportasi dan Pergudangan; Konstruksi; serta Industri Pengolahan.<\/p>\n<h3><a href=\"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/2019\/01\/04\/pertanian-masih-penyumbang-terbesar-pdrb-ciamis\/2\/\">Data Penyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)<\/a><!--nextpage--><\/h3>\n<h3>Data Penyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)<\/h3>\n<p>Kelima lapangan usaha tersebut menyumbang sebesar 74,35 persen terhadap total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Ciamis tahun 2017. Sektor pertanian menjadi penyumbang terbesar pada PDRB Kabupaten Ciamis yaitu sebesar 23,64 persen. Selanjutnya secara berturut &#8211; turut dicapai\u00a0 lapangan usaha Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil, dan Sepeda Motor sebesar 21,09 persen. Transportasi dan Pergudangan sebesar 13,10 persen. Konstruksi sebesar 8,88 persen. Serta Industri Pengolahan sebesar 7,64 persen.<\/p>\n<p>Hal ini menjadi pertanda bahwa sektor pertanian di Kabupaten Ciamis memiliki peran yang sangat strategis terhadap kemajuan Kabupaten Ciamis. Walaupun teratas dalam kontribusinya terhadap PDRB Ciamis, namun apabila dicermati, terjadi tren penurunan dari tahun ke tahun. Pada Tahun 2013 kontribusi sektor pertanian tercatat sebesar 26,92 persen dan terus menurun menjadi 23,64 persen di Tahun 2017.<\/p>\n<p>Nilai PDRB \u00a0yang disumbangkan oleh sektor pertanian yaitu sebesar Rp. 4.165.067.800.000,- dari total Rp. 19.826.747.900.000,-. Angka tersebut sangat besar, tetapi apabila di lihat dari rata &#8211; rata nilai yang disumbangkan per pelaku usaha tani masih relative rendah. Berdasarkan data sensus pertanian terakhir tahun 2013, jumlah rumah tangga pertanian\/pelaku usaha tani sebanyak 191.640 rumah tangga (setelah dikurangi angka Pangandaran). Apabila dirata &#8211; ratakan maka setiap rumah tangga tani menyumbang sebesar Rp. 21,733,81,- pertahun untuk PDRB Ciamis. setara dengan pendapatan rumah tangga tani sebesar \u00a0Rp. 1,811,151,- perbulan.<\/p>\n<p>Hal ini menunjukkan bahwa sektor pertanian walaupun sebagai penyumbang terbesar pada struktur ekonomi Ciamis ternyata produktifitasnya masih rendah. Dengan kata lain, hal ini menggambarkan rata &#8211; rata pendapatan petani masih rendah. Keadaan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Ciamis untuk mendongkrak potensi pertanian dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan para petani.<\/p>\n<h3><a href=\"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/2019\/01\/04\/pertanian-masih-penyumbang-terbesar-pdrb-ciamis\/3\/\"><strong>Tantangan Petani Ciamis di Era Millenial<\/strong><\/a><\/h3>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h3><strong>Tantangan Petani Ciamis di Era Millenial<\/strong><\/h3>\n<p>Pertambahan jumlah penduduk memiliki dua dimensi yang berbeda. Satu sisi menjadi potensi yang luar biasa untuk ketersediaan sumber daya manusia produktif yang memang diperlukan. Di satu sisi lainnya, pertambahan penduduk mendorong\u00a0 kebutuhan pangan yang semakin meningkat. Mau tidak mau, sektor pertanian harus mampu mengimbanginya dengan meningkatkan produksi pangan.<\/p>\n<p>Meningkatkan produksi pangan saat ini bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi, lahan pertanian yang menjadi salah satu faktor produksi semakin menurun. Hal tersebut seiring terjadinya konversi lahan. Begitupun juga minat generasi muda untuk bertani cenderung menurun. Berdasarkan data BPS, rata &#8211; rata umur petani di Jawa Barat berada di kisaran 49-50 tahun dan sebanyak 83,65 persen berpendidikan SD ke bawah. Petani yang memiliki pendidikan SMA keatas hanya sebesar 1,82 persen.<\/p>\n<p>Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan Ciamis. Sebagian besar petani di Ciamis memiliki lahan yang terbatas (petani gurem). Hasil Sensus Pertanian 2013 menunjukkan bahwa, 67,06 persen petani di Ciamis memiliki lahan dibawah 0,25 hektar. Hal ini menjadi tantangan tersendiri, karena dengan luas lahan yang kecil tentunya produksi yang dihasilkan pun tidak akan banyak. Oleh sebab itu, \u00a0pendapatan petani di Ciamis belum sepenuhnya terpenuhi dari hasil tani. Kebanyakan dari petani kita, bertani hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi beras atau dalam kata lain pertanian kita masih subsisten.<\/p>\n<p>Gambaran umum tentang tingkat pendidikan petani juga masih rendah. Kondisi ini memiliki keterkaitan dengan tingkat adopsi inovasi pertanian yang rendah. \u00a0Oleh sebab itu, peran penyuluh pertanian semakin berat dalam pendampingan petani. Pendampingan untuk memahami \u00a0teknologi terbaru di sektor pertanian.<\/p>\n<p>Gambaran kondisi tersebut, seharusnya menjadi titik tolak arah kebijakan pertanian yang pro petani. Target peningkatan produksi padi\u00a0 sejatinya harus mampu mendorong kesejahteraan petani maupun buruh tani. Peningkatan kesejahteraan petani secara langsung maupun \u00a0tidak langsung akan mengurangi angka kemiskinan. Hal ini, terkait petani masih menjadi\u00a0 kantong kantong kemiskinan.<\/p>\n<p>Peningkatan pembangunan pertanian diharapkan mendorong munculnya sektor industri berbasis pertanian. Petani di Ciamis jangan hanya bisa menanam, panen kemudian dijual. Akan tetapi harus didorong dan diarahkan melakukan pengolahan pasca panen. Pengolahan pasca panen produk pertanian yang dijual memiliki nilai tambah yang lebih menguntungkan. Ketika pendapatan petani Ciamis meningkat, ketahanan pangan terpenuhi, kontribusi terhadap nilai PDRB meningkat maka akan berkonstribusi positif terhadap pencapaian \u00a0Ciamis Maju Berkualitas Menuju Kemandirian.<\/p>\n<figure id=\"attachment_84053\" aria-describedby=\"caption-attachment-84053\" style=\"width: 225px\" class=\"wp-caption alignleft\"><img decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-84053\" src=\"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2019\/01\/WhatsApp-Image-2019-01-04-at-17.20.08-225x300.jpeg\" alt=\"\" width=\"225\" height=\"300\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-84053\" class=\"wp-caption-text\">Rudi Rukhimat, SP, Statistisi Ahli Pertama, BPS Kabupaten Ciamis<\/figcaption><\/figure>\n<p>*) <strong>Rudi Rukhimat, SP<\/strong><\/p>\n<p><em><strong>(Penulis adalah Statistisi Ahli Pertam<\/strong><strong>a, BPS Kabupaten Ciamis<\/strong><strong>)<\/strong><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>wartapriangan.com, OPINI.\u00a0Pertanian sampai saat ini masih memiliki peran penting dalam rangkaian pembangunan kehidupan manusia. Bertani memang tidak terlepas dari kehidupan sehari &#8211; hari khususnya untuk beberapa wilayah yang memiliki potensi. Kebutuhan pangan hanya dapat terpenuhi dari sektor pertanian. Pertanian masih sebagai motor penggerak roda perekonomian di sebagian besar Kabupaten. Semaju apa pun suatu wilayah, tetap [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":24,"featured_media":79331,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[549],"tags":[],"class_list":["post-84051","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84051","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/users\/24"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=84051"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84051\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":84055,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84051\/revisions\/84055"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/media\/79331"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=84051"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=84051"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=84051"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}