{"id":84345,"date":"2019-01-17T23:44:21","date_gmt":"2019-01-17T16:44:21","guid":{"rendered":"https:\/\/wartapriangan.com\/?p=84345"},"modified":"2019-01-17T23:44:21","modified_gmt":"2019-01-17T16:44:21","slug":"persoalan-produksi-padi-dan-petani-di-jawa-barat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/2019\/01\/17\/persoalan-produksi-padi-dan-petani-di-jawa-barat\/","title":{"rendered":"Persoalan Produksi Padi dan Petani di Jawa Barat"},"content":{"rendered":"<p><strong>wartapriangan.com, <a href=\"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/category\/opini\/\">OPINI<\/a>.<\/strong>\u00a0Berbicara padi, tak lepas dari input produksi bahan makanan pokok. Beras masih menjadi makanan pokok negeri ini. Konsumsi beras artinya ada keterkaitan dengan ketersediaan, ketersediaan tersebut menyangkut produksi atau impor beras. Keputusan impor beras tentunya didasarkan atas kurangnya ketersediaan produksi padi. Semua bermuara dari validitas atau akurasi data produksi padi.<\/p>\n<p>Permasalahan yang terjadi, sebelumnya banyak pihak yang menyangsikan akurasi data produksi padi. Berdasarkan kondisi tersebut, Badan Pusat Statistik (BPS)\u00a0 dalam sebuah studi bersama <em>Japan International Cooperation Agency <\/em>(JICA) pada tahun 1998 telah mengisyaratkan bahwa terjadi <em>over<\/em> estimasi luas panen sekitar 17,07 persen.<\/p>\n<p>mempersoalkan masalah tersebut, \u00a0perlu dilakukan upaya perbaikan metodologi penghitungan produksi padi. Perbaikan merupakan kolaborasi antara BPS dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Kementerian Agraria dan Tata Ruang\/Badan Pertanahan Nasional (Kementerian ATR\/BPN), Badan Informasi dan Geospasial (BIG), serta Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).<\/p>\n<p>Metode yang digunakan yaitu Kerangka Sampel Area (KSA). KSA merupakan metode perhitungan luas panen, khususnya tanaman padi. KSA memanfaatkan teknologi citra satelit yang berasal dari BIG dan peta lahan baku sawah dari Kementerian ATR\/BPN.<\/p>\n<p>Secara garis besar, tahapan perhitungan produksi beras hasil penyempurnaan adalah :<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Menetapkan Luas Lahan Baku Sawah.<\/strong> Verifikasi tahap pertama menggunakan citra satelit resolusi sangat tinggi. Metode ini menghasilkan angka luas sawah yang aktual sesuai dengan kondisi sesungguhnya. Verifikasi tahap keduanya dilakukan melalui validasi ulang di lapangan oleh Kementerian ATR\/ BPN.<\/li>\n<li><strong>Menetapkan Luas Panen<\/strong><strong>.<\/strong> BPS melakukan penyempurnaan perhitungan luas panen padi berdasarkan pengamatan yang objektif (<em>objective measurement<\/em>) menggunakan metodologi KSA yang dikembangkan bersama BPPT.<\/li>\n<\/ul>\n<p><em>(3). \u00a0<\/em><strong>Menetapkan Produktivitas Per Hektar.<\/strong> BPS juga melakukan penyempurnaan metodologi dalam menghitung produktivitas per hektar. Penyempurnaan dari metode ubinan berbasis rumah tangga menjadi metode ubinan berbasis sampel KSA.<\/p>\n<p>(4). <strong>Menyempurnakan Angka Konversi dari Gabah.<\/strong> Penyempurnaan dilakukan untuk mendapatkan angka konversi yang lebih akurat dengan melakukan survei di dua periode yang berbeda dengan basis provinsi sehingga akan didapatkan angka konversi untuk masing &#8211; masing provinsi.<\/p>\n<h3><strong><a href=\"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/2019\/01\/17\/persoalan-produksi-padi-dan-petani-di-jawa-barat\/2\/\">Produksi Padi Dan Petani di Jawa Barat 2018<\/a> <\/strong><\/h3>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h3><strong>Produksi Padi Dan Petani di Jawa Barat 2018 <\/strong><\/h3>\n<p>Rilis data BPS berdasarkan hasil metode KSA, produksi padi di Jawa Barat dari Januari hingga September 2018 sebesar 8.107.588 ton Gabah Kering Giling (GKG). Sementara itu, potensi produksi padi pada bulan Oktober &#8211; Desember yaitu sebesar 1.431.742 ton. Dengan demikian, perkiraan total produksi padi 2018 adalah 9.539.330 ton. Jika produksi padi dikonversikan menjadi beras dengan menggunakan angka konversi GKG ke beras tahun 2018, maka produksi padi tersebut setara dengan 5.480 ribu ton beras.<\/p>\n<p>Terdapat lima besar Kabupaten yang menjadi lumbung padi di Jawa Barat. Kelima Kabupaten tersebut berdasarkan produksi padi (GKG)\u00a0 yaitu: Kabupaten Indramayu (1.391.928 ton), Kabupaten Karawang (1.124.447 ton), Kabupaten Subang (991.003 ton), Cianjur (670.473 ton) dan Majalengka ( 546.274 ton).<\/p>\n<p>Dengan perbaikan metodologi penghitungan produksi padi, diharapkan akurasi datanya semakin baik. Pemerintah telah mengumumkan angka produksi padi tersebut pada Oktober tahun lalu. Sekarang yang menjadi pokok permasalahan adalah bagaimana upaya untuk kembali menjadi swasembada pangan. Ketahanan pangan menjadi suatu keharusan sehingga tidak terjadi lagi polemik impor beras.<\/p>\n<p>Disamping itu, pencapaian swasembada pangan dan ketahanan pangan diharapkan\u00a0 tidak mengesampingkan tingkat kesejahteraan petani. Dengan kata lain, harus ada keseimbangan antara upaya mencapai target produksi dengan upaya pengawalan kesejahteraan petani khusunya petani padi. Kontribusi terbesar kemiskinan masih dari sektor pertanian. Regenerasi petani terutama petani padi juga masih mandek.<\/p>\n<p>Berdasarkan data BPS, pada Agustus 2018 terdapat sebanyak 2,87 juta orang bekerja di sektor pertanian. Angka ini sekitar 13,81 % dari penduduk bekerja di Jawa Barat. Komposisinya terbesar ketiga setelah sektor perdagangan (22,79%) dan sektor industri (21,47%). Sedangkan total yang penduduk yang bekerja di Jawa Barat sebanyak 20,92 juta orang.<\/p>\n<p>Kedepannya, kolaborasi diharapkan tidak hanya sebatas perbaikan data produksi. Sinergitas berbagai pihak sangat penting untuk mewujudkan petani\u00a0 yang sejahtera. Petani\u00a0 yang sejahtera juga akan menjadi magnet generasi milenial untuk bergelut disektor pertanian. Sebuah harapan yang masih perlu upaya panjang, namun semoga bisa cepat terwujud.<\/p>\n<figure id=\"attachment_84347\" aria-describedby=\"caption-attachment-84347\" style=\"width: 195px\" class=\"wp-caption alignleft\"><img decoding=\"async\" class=\" wp-image-84347\" src=\"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2019\/01\/WhatsApp-Image-2019-01-17-at-5.18.39-PM-225x300.jpeg\" alt=\"\" width=\"195\" height=\"260\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-84347\" class=\"wp-caption-text\">Jajang Sunandar, S. Sos, tenaga fungsional di Badan Pusat Statistik Kabupaten Ciamis, Jawa Barat<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>Jajang Sunandar, S. Sos.<\/strong><\/p>\n<p><strong><em>(Penulis merupakan tenaga fungsional di BPS Kabupaten Ciamis, Jawa Barat)<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>wartapriangan.com, OPINI.\u00a0Berbicara padi, tak lepas dari input produksi bahan makanan pokok. Beras masih menjadi makanan pokok negeri ini. Konsumsi beras artinya ada keterkaitan dengan ketersediaan, ketersediaan tersebut menyangkut produksi atau impor beras. Keputusan impor beras tentunya didasarkan atas kurangnya ketersediaan produksi padi. Semua bermuara dari validitas atau akurasi data produksi padi. Permasalahan yang terjadi, sebelumnya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":24,"featured_media":84346,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[549],"tags":[550,10496],"class_list":["post-84345","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini","tag-opini","tag-persoalan-padi-dan-petani"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84345","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/users\/24"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=84345"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84345\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":84348,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84345\/revisions\/84348"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/media\/84346"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=84345"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=84345"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=84345"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}