{"id":84738,"date":"2019-02-19T14:45:43","date_gmt":"2019-02-19T07:45:43","guid":{"rendered":"https:\/\/wartapriangan.com\/?p=84738"},"modified":"2019-02-19T14:46:56","modified_gmt":"2019-02-19T07:46:56","slug":"bendung-manganti-kabupaten-ciamis-menanti-sentuhan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/2019\/02\/19\/bendung-manganti-kabupaten-ciamis-menanti-sentuhan\/","title":{"rendered":"Bendung Manganti Kabupaten Ciamis Menanti Sentuhan"},"content":{"rendered":"<p><strong>wartapriangan.com, <a href=\"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/category\/opini\/\">OPINI.<\/a><\/strong> Secara \u00a0geografis, \u00a0Manganti terletak di sebelah timur perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah, tepatnya berada di Desa Sidarahayu, \u00a0Kecamatan Purwadadi. Manganti merupakan \u00a0bendung\u00a0 yang\u00a0 diresmikan oleh Presiden Soeharto, tahun 90-an. Sementara ini, Bendung Manganti baru difungsikan sebagai sumber pengairan\u00a0 sawah area kawasan Cilacap, Jateng dan Kabupaten Ciamis, serta Kabupaten Pangandaran. Selain untuk mengairi sawah dan pengendalian banjir, Bendung Manganti ini sudah dijadikan alternatif kunjungan warga untuk sekedar\u00a0 duduk &#8211; duduk menikmati keindahan alam.<\/p>\n<p>Oleh sebab itu, Bendung Manganti memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi salah satu obyek wisata. Sementara ini, lokasi tersebut \u00a0baru dikunjungi oleh masyarakat sekitar untuk sekedar makan &#8211; makan sebagai refresing dan liburan keluarga. Kunjungan biasanya lebih padat pada saat liburan panjang dan Idul Fitri. Inilah sebagai indikator potensi besar dari Bendung Manganti.<\/p>\n<p>Diharapkan kedepannya bendungan ini bisa menjadi salah satu objek wisata alam yang lebih menarik. Bendung Manganti sebenarnya sudah terkenal dan banyak orang mempostingnya di berbagai media.\u00a0 \u00a0\u00a0Jikalau terus kembangkan dan dibangun sarana penunjang wisata lainnya, tidak menutup kemungkinan akan lebih banyak menarik lagi kunjungan wisatawan. Disinilah pentingnya peran berbagai pihak dalam pengembangannya. Peran pemerintah , investor, serta masyarakat sekitar menjadi kunci terwujudnya Bendung Manganti masuk dalam pengembangan sektor pariwisata.<\/p>\n<p>Sektor pariwisata menjadi salah satu faktor yang bisa mendongkrak perekonomian Kabupaten Ciamis. Dengan demikian simpul &#8211; simpul potensi objek wisata di Kabupaten Ciamis perlu terus digali. Hal ini seiring dengan rencana \u00a0pembangunan jalan tol Cigatas oleh Pemerintah Pusat. Oleh karenanya Pemerintah Kabupaten Ciamis diharapkan mampu mengantisipasinya.<\/p>\n<p>Adanya tol Cigatas sudah barang tentu akan memudahkan mobilisasi orang ke wilayah Ciamis. Kemudahan mobilisasi ini menjadi \u00a0\u201c<em>peluang<\/em>\u201d sekaligus \u201c<em>ancaman<\/em>\u201d bagi perekonomian Kabupaten Ciamis.\u00a0 Menjadi \u201cpeluang\u201d apabila bisa memanfaatkan kemudahan akses, salah satunya dengan pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Ciamis. Sebaliknya menjadi \u201cancaman\u201d, apabila tidak ada magnet wisata menarik yang bisa dinikmati wisatawan. Wisatawan akan langsung begitu saja melewati tol Cigatas tanpa mampir ke Ciamis.<\/p>\n<h3><a href=\"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/2019\/02\/19\/bendung-manganti-kabupaten-ciamis-menanti-sentuhan\/2\/\">Daya Ungkit Wisata Terhadap Perekonomian Kabupaten Ciamis<\/a><\/h3>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h3>Daya Ungkit Wisata Terhadap Perekonomian Kabupaten Ciamis<\/h3>\n<p>Ditinjau dari aspek perekonomian, sampai saat ini Kabupaten Ciamis masih mengandalkan sektor pertanian. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Ciamis pada tahun 2017 sebesar \u00a0Rp. 19,8 trilyun. Adapun struktur perekonomannya \u00a0didominasi oleh tiga kategori usaha terbesar. Yaitu pertanian 23,64%, perdagangan 21,09% dan transportasi 13,10%. Sedangkan sektor pariwisata masih belum signifikan terhadap perekonomian Kabupaten Ciamis.<\/p>\n<p>Kinerja pariwisata dalam PDRB tersebar di berbagai sektor atau kategori lapangan usaha.\u00a0 Nilai tambah pariwisata melekat pada sektor perdagangan, industri pengolahan, transportasi, penyediaan\u00a0 akomodasi &amp; makan minum, dan jasa lainnya. Daya ungkit pariwasata sangat kuat terhadap peningkatan perekonomian. Meningkatkan sektor pariwisata, artinya upaya meningkatkan kunjungan wisatawan. Meningkatnya kunjungan wisatawan inilah yang menghasilkan <em>multiflier effect<\/em> ke berbagai sektor.<\/p>\n<p>Pengembangan pariwisata akan menyerap tenaga kerja. Wisata juga meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).\u00a0 Geliat wisata ini berdampak terhadap tingkat hunian kamar hotel. Dampak lainnya akan dirasakan disektor perdagangan. Demikian juga bisa menumbuhkan industri pengolahan khususnya industri kreatif yang menunjang pariwisata.<\/p>\n<p>Hai ini menunjukan bahwa sektor pariwisata merupakan sektor yang sangat potensial untuk dikembangkan. \u00a0Pasca lepasnya Pangandaran (andalan wisata) dari Kabupaten Ciamis, maka perlu dibentuk magnet wisata baru yang mampu menarik wisatawan. Kehadiran pariwisata andalan di Kabupaten Ciamis sangat dinantikan setelah enam tahun pangandaran menjadi otonomi tersendiri. Kendati demikian, Bendung Manganti bisa menjadi salah satu magnet wisata yang akan mampu mendongkrak perekonomian Kabupaten Ciamis.<\/p>\n<p>Perjalanan masih panjang dalam mewujudkannya. Namun dengan segala upaya dan sinergitas semua unsur, bukan hal yang mustahil bisa terealisasi dalam waktu dekat. Kabupaten Ciamis harus mampu memanfaatkan peluang rencana pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pangandaran.Tanpa perencanaan dan upaya yang sungguh &#8211; sungguh, semuanya hanya mimpi. Mimpi besar Kabupaten Ciamis menjadi salah satu destinasi wisata di Jawa Barat.<\/p>\n<figure id=\"attachment_84739\" aria-describedby=\"caption-attachment-84739\" style=\"width: 200px\" class=\"wp-caption alignleft\"><img decoding=\"async\" class=\" wp-image-84739\" src=\"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2019\/02\/WhatsApp-Image-2019-02-19-at-11.31.29-AM-200x300.jpeg\" alt=\"\" width=\"200\" height=\"300\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-84739\" class=\"wp-caption-text\">Yadi Ahyadi, S.Sos, Statitisi Ahli Muda, Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>Yadi Ahyadi, S.Sos <\/strong><\/p>\n<p><strong>(<em>Penulis <\/em><em>adalah\u00a0<\/em><em>Statitisi Ahli Muda p<\/em><em>ada Badan Pusat Statistik (BPS<\/em><em>) Kabupaten Ciamis, Jawa Barat)<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>wartapriangan.com, OPINI. Secara \u00a0geografis, \u00a0Manganti terletak di sebelah timur perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah, tepatnya berada di Desa Sidarahayu, \u00a0Kecamatan Purwadadi. Manganti merupakan \u00a0bendung\u00a0 yang\u00a0 diresmikan oleh Presiden Soeharto, tahun 90-an. Sementara ini, Bendung Manganti baru difungsikan sebagai sumber pengairan\u00a0 sawah area kawasan Cilacap, Jateng dan Kabupaten Ciamis, serta Kabupaten Pangandaran. Selain untuk mengairi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":24,"featured_media":84741,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[549],"tags":[],"class_list":["post-84738","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84738","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/users\/24"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=84738"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84738\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":84740,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84738\/revisions\/84740"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/media\/84741"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=84738"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=84738"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portoweb.andrypein.net\/wartapriangan\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=84738"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}